Kita berhasil
Bersyukur
Waktu berlalu, mengajakku berhenti merisaukan hal yang sudah lalu. Bel berbunyi, kala itu kudapati dia termenung duduk sendiri di depan kelas. Entah apa yang ia pikirkan. "Mungkin, aku tak seberuntung dia saat ini." gumamku dalam hati. Otakku tak pernah bisa berhenti memikirkan harapanku itu. Hatiku bahkan tak bisa berhenti merisaukan apa yang telah terjadi padaku.
"Tan, kamu kenapa?" kucoba mendekati Tania yang sedang duduk sambil melamun. "Eh Rissa, aku tak mengapa." jawabnya sambil tersenyum. "Benarkah? Aku tak yakin pada ucapanmu." jawabku sambil menatap matanya. Tania hanya menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba menyenderkan kepalanya di pundakku. "Ris, boleh tidak aku bertanya?" Tania melontarkan kalimat yang tak bisa kutolak inginnya. "Boleh Tan, mau tanya apa?" jawabku. "Ris, ada tidak di dunia ini yang lebih membahagiakan dari sebuah keberhasilan?" Tania bertanya padaku dengan nada yang agak rendah. "Ada." kujawab pertanyaannya dengan singkat. Tania kembali bertanya, "Apakah itu?" Sebenarnya, aku sendiri tak tahu bahagia yang bahkan sangat membahagiakan setelah keberhasilan. Kulihat diriku yang kini sebenarnya masih tak bisa menerima keadaan, masih berusaha meredakan amarah, dan masih suka bertanya pada diri sendiri, 'Apa bedaku dengan mereka?'. Tania sudah menunggu jawabku. Namun, aku masih saja diam dan termangu. Tania tiba-tiba memukul tanganku sembari berkata, "Ris, jawab!" Aku yang awalnya diam dan termangu, kini jadi terkejut dengan pukulan Tania. "Eh iya Tan?" jawabku. "Ayo jawab Ris, kamu bilang ada yang lebih membahagiakan dari sebuah keberhasilan? Apa itu?" Tania kembali bertanya hal yang sama padaku. "Ada Tan. Mendapat sebuah keberhasilan memang membahagiakan. Tapi, tak selamanya berhasil bisa didapat secepat kilat. Butuh banyak usaha dan doa. Aku bahkan berhasil membuatmu bertanya-tanya sekarang." kujawab sambil menahan tawa. Tania terkejut mendengar jawabku, lagi lagi dia memukul tanganku dengan keras. "Awww!" Teriakku pada Tania. "Ayolah Ris, aku serius." jawab Tania dengan muka sebalnya. "Iya iya, aku serius. Iya Tan, ada yang lebih membahagiakan dari sebuah keberhasilan yaitu bersyukur. Segala sesuatu memang harus disyukuri. Kamu berhasil pasti bahagianya, tapi ketika kamu bersyukur mendapat keberhasilan itu pasti kamu akan merasa lebih bahagia." Aku menjawab pertanyaan Tania dengan nada sendu. "Jangan berkata aku berhasil Ris. Berkatalah kita berhasil." jawab Tania sambil memegang tanganku. "Berhasil untuk apa Tan? Kamu yang berhasil, bukan aku." kujawab sambil sedikit tertawa. "Kita berhasil Ris, kita berhasil. Kamu tahu? Ada banyak orang yang ingin seperti kita, ingin menjadi seperti kita, belajar bersama anak-anak pilihan, dikejar waktu, dikejar materi, meski akhirnya tak semua bisa terjadi sesuai yang kuta harapkan. Berbanggalah Ris! Kamu berhasil." jawab Tania. Ya, Tania memang benar. Tak semua bisa sepertiku. Tak semua bisa merasakan apa yang aku rasa sekarang. Aku memang gagal, tapi sebenarnya aku berhasil. "Kamu tahu? Kesempatan itu hanya datang satu kali. Bahkan datang untuk yang kedua kalinya sangat jarang terjadi. Kamu tahu? Bahagia juga bukan hanya berhasil. Kamu bahkan benar, bersyukur melebihi rasa bahagia. Sadar tidak? Jalan yang Allah pilih itu selalu baik? Kamu jadi bagian dari anak-anak pilihan itu juga jalan yang sudah Allah rencanakan. Ingat, gagalmu hari ini bukan akhir. Tapi Allah punya rencana yang baik buat kamu, Ris." jawab Tania sambil memegang tanganku. Tanpa kusadari, mataku berkaca-kaca. Kemudian air mataku jatuh membahasahi pipiku. Tania membuatku sadar akan arti syukur yang sesungguhnya.
Aku sadar sekarang, bahwa tak selamanya hidup berjalan mulus tanpa masalah. Bahwa hidup pun juga berliku. Aku tak bisa seperti Tania bukan berarti aku gagal di lain hari. Tapi, Allah akan memberiku sesuatu yang lebih dari ini. Aku percaya bahwa akan ada pelangi setelah hujan. Aku memang tak seberuntung dia, bisa memakai toga membawa ijazah kelulusannya di tahun depan. Tapi kegagalan ini yang akan menuntunku, mengarahkanku bahwa aku tak boleh gagal lagi, bahwa aku juga harus bisa membuktikan aku bisa lebih dari mereka. "Iya tan, kita berhasil." kujawab dengan haru.
Waktu berlalu, mengajakku berhenti merisaukan hal yang sudah lalu. Bel berbunyi, kala itu kudapati dia termenung duduk sendiri di depan kelas. Entah apa yang ia pikirkan. "Mungkin, aku tak seberuntung dia saat ini." gumamku dalam hati. Otakku tak pernah bisa berhenti memikirkan harapanku itu. Hatiku bahkan tak bisa berhenti merisaukan apa yang telah terjadi padaku.
"Tan, kamu kenapa?" kucoba mendekati Tania yang sedang duduk sambil melamun. "Eh Rissa, aku tak mengapa." jawabnya sambil tersenyum. "Benarkah? Aku tak yakin pada ucapanmu." jawabku sambil menatap matanya. Tania hanya menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba menyenderkan kepalanya di pundakku. "Ris, boleh tidak aku bertanya?" Tania melontarkan kalimat yang tak bisa kutolak inginnya. "Boleh Tan, mau tanya apa?" jawabku. "Ris, ada tidak di dunia ini yang lebih membahagiakan dari sebuah keberhasilan?" Tania bertanya padaku dengan nada yang agak rendah. "Ada." kujawab pertanyaannya dengan singkat. Tania kembali bertanya, "Apakah itu?" Sebenarnya, aku sendiri tak tahu bahagia yang bahkan sangat membahagiakan setelah keberhasilan. Kulihat diriku yang kini sebenarnya masih tak bisa menerima keadaan, masih berusaha meredakan amarah, dan masih suka bertanya pada diri sendiri, 'Apa bedaku dengan mereka?'. Tania sudah menunggu jawabku. Namun, aku masih saja diam dan termangu. Tania tiba-tiba memukul tanganku sembari berkata, "Ris, jawab!" Aku yang awalnya diam dan termangu, kini jadi terkejut dengan pukulan Tania. "Eh iya Tan?" jawabku. "Ayo jawab Ris, kamu bilang ada yang lebih membahagiakan dari sebuah keberhasilan? Apa itu?" Tania kembali bertanya hal yang sama padaku. "Ada Tan. Mendapat sebuah keberhasilan memang membahagiakan. Tapi, tak selamanya berhasil bisa didapat secepat kilat. Butuh banyak usaha dan doa. Aku bahkan berhasil membuatmu bertanya-tanya sekarang." kujawab sambil menahan tawa. Tania terkejut mendengar jawabku, lagi lagi dia memukul tanganku dengan keras. "Awww!" Teriakku pada Tania. "Ayolah Ris, aku serius." jawab Tania dengan muka sebalnya. "Iya iya, aku serius. Iya Tan, ada yang lebih membahagiakan dari sebuah keberhasilan yaitu bersyukur. Segala sesuatu memang harus disyukuri. Kamu berhasil pasti bahagianya, tapi ketika kamu bersyukur mendapat keberhasilan itu pasti kamu akan merasa lebih bahagia." Aku menjawab pertanyaan Tania dengan nada sendu. "Jangan berkata aku berhasil Ris. Berkatalah kita berhasil." jawab Tania sambil memegang tanganku. "Berhasil untuk apa Tan? Kamu yang berhasil, bukan aku." kujawab sambil sedikit tertawa. "Kita berhasil Ris, kita berhasil. Kamu tahu? Ada banyak orang yang ingin seperti kita, ingin menjadi seperti kita, belajar bersama anak-anak pilihan, dikejar waktu, dikejar materi, meski akhirnya tak semua bisa terjadi sesuai yang kuta harapkan. Berbanggalah Ris! Kamu berhasil." jawab Tania. Ya, Tania memang benar. Tak semua bisa sepertiku. Tak semua bisa merasakan apa yang aku rasa sekarang. Aku memang gagal, tapi sebenarnya aku berhasil. "Kamu tahu? Kesempatan itu hanya datang satu kali. Bahkan datang untuk yang kedua kalinya sangat jarang terjadi. Kamu tahu? Bahagia juga bukan hanya berhasil. Kamu bahkan benar, bersyukur melebihi rasa bahagia. Sadar tidak? Jalan yang Allah pilih itu selalu baik? Kamu jadi bagian dari anak-anak pilihan itu juga jalan yang sudah Allah rencanakan. Ingat, gagalmu hari ini bukan akhir. Tapi Allah punya rencana yang baik buat kamu, Ris." jawab Tania sambil memegang tanganku. Tanpa kusadari, mataku berkaca-kaca. Kemudian air mataku jatuh membahasahi pipiku. Tania membuatku sadar akan arti syukur yang sesungguhnya.
Aku sadar sekarang, bahwa tak selamanya hidup berjalan mulus tanpa masalah. Bahwa hidup pun juga berliku. Aku tak bisa seperti Tania bukan berarti aku gagal di lain hari. Tapi, Allah akan memberiku sesuatu yang lebih dari ini. Aku percaya bahwa akan ada pelangi setelah hujan. Aku memang tak seberuntung dia, bisa memakai toga membawa ijazah kelulusannya di tahun depan. Tapi kegagalan ini yang akan menuntunku, mengarahkanku bahwa aku tak boleh gagal lagi, bahwa aku juga harus bisa membuktikan aku bisa lebih dari mereka. "Iya tan, kita berhasil." kujawab dengan haru.
Comments
Post a Comment