Masih di hati.
Singkatnya begini, mauku bukan lagi maumu.
Hai kamu,
Seseorang yang selalu dinanti. Apa kabar?
Demi apa aku rela menunggu. Ku kira hanya sedetik atau semenit saja. Ternyata, kamu butuh banyak waktu untuk sendiri, menghilangkan bosanmu.
Hari ini seharusnya jadi hari bersejarah untukku. Dimana kamu memberikan jawaban berupa kepastian. Tak ada yang berharap lebih, hanya saja aku sempat menaruh harapan itu padamu meski sedikit. Ku kira kamu akan ingat soal ini.
Pernah tidak aku meminta yang lebih dari seorang teman denganmu? Pernah tidak aku inginkan kita lebih jauh dari ini? Teramat jauh juga tidak, bahkan dibilang sangat dekat juga tidak.
Masih bersama rinduku tidak? Aku sampai lupa bahwa kita pernah saling rindu. Jauh ini buatku seolah kamu bukan lagi yang selalu kurindu. Tapi aku sadar, aku masih menyayangimu seperti dulu. Hanya saja, berhenti untuk selalu rindu pada yang tidak rindu.
Aku pernah membaca bahwa, "seseorang yang sudah pergi ketika kembali ia takkan pernah sama lagi." Mungkin memang benar, tapi setidaknya niatmu untuk kembali memperbaiki buatku bahagia meski sedetik.
Aku suka tatapanmu yang diam-diam buat semua buyar. Aku suka suaramu yang diam-diam buatku tersenyum di tengah malam. Aku suka sekali jika kamu datang lagi hari ini.
Tak banyak tanya, aku cukup menikmati hadirmu pun pergimu. Kamu pikir aku perempuan kuat yang bisa menahan rindu? Maaf, aku bukan yang seperti itu.
Tapi, kupikir kamulah laki-laki kuat; yang bisa mendiamkanku berhari-hari tanpa kabar. Sehebat itukah(?)
Hai kamu,
Pemilik rindu-ku. Apakah aku masih ada di hatimu? Aku masih teringat bagaimana semesta menyatukan kita untuk pertama kali. Bahkan aku ingat, hari dimana kita bertemu dengan lucunya kamu bilang "kenapa harus lemot si"
Pertemuan kita sangatlah sesingkat itu. Tak inginkah kamu kembali? Membawa kabar baik untuk hatiku yang mulai layu, haus akan kabar, dan rapuh karena rindu?
Menunggu ketidakpastian memang bukan perkara yang mudah. Tapi aku tahu, lebih baik menunggu ketidakpastian daripada terus berpikir hal negatif tentangmu.
Overthinking may be can make me so stress. But, i know you'll come and gives me an answer.
Sakit atau tidaknya jawaban yang kamu beri nanti, semoga harapan-harapanku lekas berhenti. Berdiam diri mengingat kemudian mengharuskan sesuatu itu terjadi.
Kamu boleh pergi, aku tak apa. Asal jangan paksa aku berhenti memikirkan dan berhenti cari tahu soal kabar-kabarmu. Melupa tak sebercanda itu.
Mungkin, aku dan kamu hanyalah kebolehjadian yang tak berakhir indah. Semesta menyatukan kita dengan berbagai alasan yang tanpa kita duga bisa sejauh ini.
Se-lama apapun kamu berada disini bersamaku, ketika waktu meminta untuk berhenti, kita bisa apa?
Setiap hari aku jatuh hati pada kekutan-kejutan yang kamu berikan. Semoga aku lekas melupa soal itu.
Bertahanku disini, menunggu ketidakpastian yang sebenarnya hanya membuang waktuku. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa mengerti soal b-o-s-a-n.
Ternyata, akulah bosanmu. Akulah ketidaknyamananmu. Meski kamu tak berkata demikian, kusimpulkan semacam itu. Benar tidak?
Hai kamu,
Seseorang yang pernah jadi -ku untukku.
Terimakasih untuk banyak waktu, bahagia meski sakit harus jadi bagian masalalu yang hanya bisa dikenang tanpa diulang.
Terimakasih juga untuk banyak kesempatan mengenalmu, jauh lebih dari yang kuduga.
Semoga awal perkenalan kita hingga detik ini, tak jadi sesuatu yang kamu sesali.
Aku bahagia mengenal sosok sepertimu; bisa mengerti tanpa harus dimengerti.
Biarlah ini semua jadi kenangan ki-ta. Aku akan tetap ingat, semoga kamu juga.
Biarlah ini jadi cerita indah, kenanglah meski tak sempurna.
Hai kamu-ku, kamu masih di hati.
Hai kamu,
Seseorang yang selalu dinanti. Apa kabar?
Demi apa aku rela menunggu. Ku kira hanya sedetik atau semenit saja. Ternyata, kamu butuh banyak waktu untuk sendiri, menghilangkan bosanmu.
Hari ini seharusnya jadi hari bersejarah untukku. Dimana kamu memberikan jawaban berupa kepastian. Tak ada yang berharap lebih, hanya saja aku sempat menaruh harapan itu padamu meski sedikit. Ku kira kamu akan ingat soal ini.
Pernah tidak aku meminta yang lebih dari seorang teman denganmu? Pernah tidak aku inginkan kita lebih jauh dari ini? Teramat jauh juga tidak, bahkan dibilang sangat dekat juga tidak.
Masih bersama rinduku tidak? Aku sampai lupa bahwa kita pernah saling rindu. Jauh ini buatku seolah kamu bukan lagi yang selalu kurindu. Tapi aku sadar, aku masih menyayangimu seperti dulu. Hanya saja, berhenti untuk selalu rindu pada yang tidak rindu.
Aku pernah membaca bahwa, "seseorang yang sudah pergi ketika kembali ia takkan pernah sama lagi." Mungkin memang benar, tapi setidaknya niatmu untuk kembali memperbaiki buatku bahagia meski sedetik.
Aku suka tatapanmu yang diam-diam buat semua buyar. Aku suka suaramu yang diam-diam buatku tersenyum di tengah malam. Aku suka sekali jika kamu datang lagi hari ini.
Tak banyak tanya, aku cukup menikmati hadirmu pun pergimu. Kamu pikir aku perempuan kuat yang bisa menahan rindu? Maaf, aku bukan yang seperti itu.
Tapi, kupikir kamulah laki-laki kuat; yang bisa mendiamkanku berhari-hari tanpa kabar. Sehebat itukah(?)
Hai kamu,
Pemilik rindu-ku. Apakah aku masih ada di hatimu? Aku masih teringat bagaimana semesta menyatukan kita untuk pertama kali. Bahkan aku ingat, hari dimana kita bertemu dengan lucunya kamu bilang "kenapa harus lemot si"
Pertemuan kita sangatlah sesingkat itu. Tak inginkah kamu kembali? Membawa kabar baik untuk hatiku yang mulai layu, haus akan kabar, dan rapuh karena rindu?
Menunggu ketidakpastian memang bukan perkara yang mudah. Tapi aku tahu, lebih baik menunggu ketidakpastian daripada terus berpikir hal negatif tentangmu.
Overthinking may be can make me so stress. But, i know you'll come and gives me an answer.
Sakit atau tidaknya jawaban yang kamu beri nanti, semoga harapan-harapanku lekas berhenti. Berdiam diri mengingat kemudian mengharuskan sesuatu itu terjadi.
Kamu boleh pergi, aku tak apa. Asal jangan paksa aku berhenti memikirkan dan berhenti cari tahu soal kabar-kabarmu. Melupa tak sebercanda itu.
Mungkin, aku dan kamu hanyalah kebolehjadian yang tak berakhir indah. Semesta menyatukan kita dengan berbagai alasan yang tanpa kita duga bisa sejauh ini.
Se-lama apapun kamu berada disini bersamaku, ketika waktu meminta untuk berhenti, kita bisa apa?
Setiap hari aku jatuh hati pada kekutan-kejutan yang kamu berikan. Semoga aku lekas melupa soal itu.
Bertahanku disini, menunggu ketidakpastian yang sebenarnya hanya membuang waktuku. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa mengerti soal b-o-s-a-n.
Ternyata, akulah bosanmu. Akulah ketidaknyamananmu. Meski kamu tak berkata demikian, kusimpulkan semacam itu. Benar tidak?
Hai kamu,
Seseorang yang pernah jadi -ku untukku.
Terimakasih untuk banyak waktu, bahagia meski sakit harus jadi bagian masalalu yang hanya bisa dikenang tanpa diulang.
Terimakasih juga untuk banyak kesempatan mengenalmu, jauh lebih dari yang kuduga.
Semoga awal perkenalan kita hingga detik ini, tak jadi sesuatu yang kamu sesali.
Aku bahagia mengenal sosok sepertimu; bisa mengerti tanpa harus dimengerti.
Biarlah ini semua jadi kenangan ki-ta. Aku akan tetap ingat, semoga kamu juga.
Biarlah ini jadi cerita indah, kenanglah meski tak sempurna.
Hai kamu-ku, kamu masih di hati.
Comments
Post a Comment