Rindu untuk ke sekian kalinya

Sejatinya, rindu tak ada habisnya bila tak bertegur sapa.

Mungkin, dia sudah lupa.
Saat pertama kali kuingat, hari dimana aku bisa bersama menikmati senja bersamanya.
Jauh, bahkan semakin jauh.
Meski tak lagi bersama, bukan berarti harus sejauh ini kan? Aku tak bisa diam hanya dengan bergumam, memikirkan sesuatu yang tidak penting, bertanya pada diri sendiri tentang bagaimana kabarnya(?) sejauh itukah? Hingga seperti ada pagar tinggi yang jadi penghalang.
Aku tak minta lebih, hanya minta dia bersikap biasa saja. Tak bersikap canggung, karena aku tak suka. Bukankah setelah kata "selesai" ada kata "damai" (?)
Bahkan aku rindu, rindu dengan segala cerita. Meski hal itu takkan pernah bisa untuk diulang.

Dulu, kamu adalah alasanku tersenyum setiap hari. Sekarang, kamulah alasanku mencari sibuk agar cepat berlalu dan mencantumkan kata selesai di setiap kenangan yang terlintas.
Memang benar, aku dan kamu adalah cerita yang telah usai; kadaluarsa. Untuk kembali pun, tak bisa. Mungkin aku yang masih disini, terjebak dengan segala kenangan yang terus-menerus kuingat, menjadi bayang-bayang menghalangi langkahku untuk mencari suasana dan sesuatu baru. Sedangkan kamu? Sama sekali tak ingat tentang bagaimana awal perjumpaan itu, acuh pada hal rumit yang semacam itu katamu. Lantas bagaimana bisa aku masih berada di tempat ini? Bodoh.

Tentang segala rindu, ku panjatkan doa untukmu.
Atas segala waktu yang memisahkan, ku mencoba menerima semua yang terjadi.
Atas segala jarak, aku berusaha untuk tidak bertemu meski sebenarnya aku benar-benar rindu.

Ada sajak dimana aku selalu menghadirkan kamu dalam tulisan-tulisanku. Meski kamu tak perlu mengetahuinya, semoga kamu selalu baikbaik saja disana. Aku rindu untuk ke sekian kalinya, poo🍂🍂🍂

Comments

  1. Kamu rindu untuk kesekian kalinya?? Kok poo? Bukan moo? Hehe
    Aku juga merasa seperti terjebak sendiri oleh prasaanku sendiri

    ReplyDelete

Post a Comment