We'll just be friend, pls.

Ketahuilah, aku tak pernah mudah untuk berkata iya pada yang selain dirinya.
Aku pun tak pernah bisa dengan mudah menerima seseorang baru untuk hadir dalam duniaku, mengobati segala luka, mengajakku untuk saling merindu di kemudian hari, pun menjajikan sebuah kata bahagia padaku.

Aku hanya tau satu hal; ambisimu terlalu besar.
Tenanglah sejenak, pikirkan bagaimana perasaan orang yang bahkan telah menjadi milikmu.
Berhentilah menunggu, berhentilah dari sesuatu yang seharusnya tidak akan pernah bisa kau ajak untuk bersama menikmati hari-harimu.

Aku tak pernah melarangmu ini itu hanya untuk memintamu jauh.
Bahkan sebelum aku memintamu untuk mejauh, aku yang seharusnya lebih dulu melakukannya.
Aku yang seharusnya perlahan pergi dari kehidupanmu.
Perihal waktu; ini sulit bagiku.
Berpisah dengan seseorang hanya karna alasan klasik kemudian di tempat lain aku harus mendengarkan ucapan yang kau lontarkan malam itu.

Aku tak bawa perasaan hanya karna kau melontarkannya. Aku hanya tak habis pikir mengapa bisa? Kenapa harus aku? Bukankah seseorang yang telah bersanding denganmu jauh lebih menjajikan kata bahagia? Bahkan dia tulus menyayangimu. Tapi mengapa kamu tidak?

Pernah tidak, kau merasa aku ini tak ingin kau ajak bicara?
Pernah tidak, kau merasa aku ingin pergi menjauh?
Jika pernah, biarkan aku melakukannya untuk beberapa waktu.
Aku hanya butuh waktu hingga kau bisa benar-benar memahami maksudku.
Aku hanya butuh waktu kau mampu menghilangkan semua rasa itu.

Lama atau tidaknya sebuah perjalanan hatimu dengannya, aku takkan peduli.
Entah kau meninggalkannya perkara sesuatu, aku tak ingin tahu menahu soal itu.
Perihal rindu; rinduku masih miliknya.
Perihal tanya; tanyaku masih tentangnya.
Perihal jarak; aku hanya bisa mendoakan kesuksesannya.
Jangan kau kira berhenti adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Jangan kau kira berdamai adalah sesuatu yang tak rumit untuk dijelaskan.

Aku hanya minta sedikit waktu; biarkan aku sendiri tanpa lelucon yang hanya kau ingin aku tertawa mendengarnya.
Jangan pernah bandingkan, bila memang suasana itu tak lagi ada.
Jangan pernah bertanya kenapa aku lebih memilih terdiam tanpa bercakap-cakap denganmu.

Ketahuilah, ada beberapa hal yang perlu kau pelajari dari hakikat memiliki. Seseorang yang berada tepat di sampingmu kini; perlu kau akui bukan hanya saat penting saja kau anggap dia ada. Fokuslah. Kau boleh melihat yang lain tapi jangan pernah mengamatinya.

Aku pun ingin bercengkrama denganmu lagi, ingin berbagi cerita denganmu lagi, mendengarkan leluconmu lagi, tapi tidak saat ini.

Terimakasih untuk hati yang tlah bersuara; maafkan aku yang tak pernah bisa memakluminya. Hatiku masih terlalu kaku dan mati rasa karenanya:)

Ku harap, kau tak perlu membenciku. Aku hanya ingin kau tahu soal ini. Kau; hanya temanku.

Comments