Let me be your friend, please.
Karna tidak ada yang sebaik kamu dalam memahamiku.
Hitungan waktu; perlahan aku mulai sadar bahwa segalanya benar-benar telah berakhir. Tak ada lagi rindu-rindu yang berujung temu, tak ada lagi sapaan hanya sekedar berkata 'halo'. Bahkan, tak ada lagi kalimat-kalimat yang membuatku kembali bersemangat karenamu.
Segalanya butuh waktu, tak hanya diam kemudian bisa dengan mudah melupa. Andai lupa bisa semudah itu, pasti aku tak lagi peduli soalmu.
Tanya yang tak pernah kudapat jawabnya darimu dulu; sudah tidak ingin kutahu lagi mengapa. Karena waktu tlah membuktikan; bahwa kamu memang tak lagi membutuhkanku, tak lagi bersama mimpi-mimpiku, bahkan kamu ingin aku menjauhimu. Baik, beri aku waktu untuk melakukannya.
213 days left. Terlalu banyak rindu yang kurasa sendiri, terlalu banyak tanya yang ingin kutanyakan padanu, entah sekedar kabar atau keadaan. Banyak pula cerita yang seharusnya kamu dengarkan; tentang hari-hariku disini, dunia yang kamu sebut sebagai dunia baruku disini, tentang sebuah perjuangan mendapatkan, pun tentang kegagalan-kegagalan yang ku alami tanpamu disini.
Begitu banyak sesuatu baru yang membuatku mengerti bahwa segalanya tak bisa kupaksakan. Sekeras apapun aku melupa soal kenangan bersamamu, aku tetap kembali untuk selalu ingat pada kenangan itu. Aku bahkan suka saat sibukku, menghabiskan waktu memahami apa yang perlu kupahami, menikmati dunia baru yang kamu minta, pun berusaha untuk mengabaikan soalmu sejenak jauh lebih bermanfaat daripada merenung tak ada habisnya.
Aku mencoba berhenti, berhenti dari segala hal yang mengingatkanku tentangmu. Ternyata, aku hanya butuh waktu untuk melewatkan semua itu. Aku bisa lupa sejenak, bahkan sama sekali tidak ingat seperti orang amnesia saat aku bersama dengan orang-orang yang membuatku bahagia. Aku menemukan banyak hal yang tidak kutemukan di dunia lamaku, aku menemukan banyak teman meski mereka bukan teman yang tahu segalanya tentangku, tapi mereka tahu bagaimana cara agar buatku lupa dengan hal-hal yang menyedihkan.
Tragis. Aku mungkin memang bukan lagi jadi orang penting untukmu. Aku juga bukan seseorang yang kamu nantikan kepulangannya. Meski kamu pernah bilang, akulah yang kamu tunggu kepulangannya suatu saat jika aku jauh.
Kembali memang bukan pilihan. Mencari pun bukan menjadi salah satu hal yang harus kulakukan. Aku hanya berusaha bagaimana cara membuat kedua orang tuaku bangga dengan prestasi-prestasiku. Soal hati; sejauh ini, tidak ada yang sebaik kamu dalam memahamiku. Entah bodoh atau bahkan sangat bodoh, aku tidak menemukan yang kucari disini. Aku hanya bertemu mereka untuk sekedar kujadikan teman.
Soal seminggu lalu saat kita saling tatap, aku harap hari itu jadi hari terbaik saat kepulanganku ke rumah; Aku bertemu denganmu lagi. Tapi, harapku berlebih. Ku kira kita akan berbincang membicarakan hal-hal membahagiakan, terlepas dari masalalu; hal apapun tentang masa yang berusaha kupendam. Bahkan kamu tidak mengajakku bicara, menyapa pun tidak. Bagian mana yang harus aku perjelas? Sungguh, aku benci hari itu. Karna lebih baik aku tidak pernah bertemu daripada tak ada sapa meski telah bertatap.
Mungkin, aku hanya belum bisa melakukan hal-hal yang sudah kamu lakukan selama ini; sempurna melupa soalku. Aku tak masalah hanya karena kamu berhasil menemaniku melewati banyak rintangan tapi aku tak bisa menemani perjalananmu. Aku tidak marah hanya karena kamu tidak menyapaku hari itu; aku hanya ingin kita berdamai. Itu saja.
Mungkin pula, damai bagiku dan bagimu jauh berbeda. Aku tak minta kamu kembali membahagiakan dan menemani hari-hariku. Aku tak minta itu. Aku hanya ingin satu hal; jangan asing.
Let me be your friend, please.
Hitungan waktu; perlahan aku mulai sadar bahwa segalanya benar-benar telah berakhir. Tak ada lagi rindu-rindu yang berujung temu, tak ada lagi sapaan hanya sekedar berkata 'halo'. Bahkan, tak ada lagi kalimat-kalimat yang membuatku kembali bersemangat karenamu.
Segalanya butuh waktu, tak hanya diam kemudian bisa dengan mudah melupa. Andai lupa bisa semudah itu, pasti aku tak lagi peduli soalmu.
Tanya yang tak pernah kudapat jawabnya darimu dulu; sudah tidak ingin kutahu lagi mengapa. Karena waktu tlah membuktikan; bahwa kamu memang tak lagi membutuhkanku, tak lagi bersama mimpi-mimpiku, bahkan kamu ingin aku menjauhimu. Baik, beri aku waktu untuk melakukannya.
213 days left. Terlalu banyak rindu yang kurasa sendiri, terlalu banyak tanya yang ingin kutanyakan padanu, entah sekedar kabar atau keadaan. Banyak pula cerita yang seharusnya kamu dengarkan; tentang hari-hariku disini, dunia yang kamu sebut sebagai dunia baruku disini, tentang sebuah perjuangan mendapatkan, pun tentang kegagalan-kegagalan yang ku alami tanpamu disini.
Begitu banyak sesuatu baru yang membuatku mengerti bahwa segalanya tak bisa kupaksakan. Sekeras apapun aku melupa soal kenangan bersamamu, aku tetap kembali untuk selalu ingat pada kenangan itu. Aku bahkan suka saat sibukku, menghabiskan waktu memahami apa yang perlu kupahami, menikmati dunia baru yang kamu minta, pun berusaha untuk mengabaikan soalmu sejenak jauh lebih bermanfaat daripada merenung tak ada habisnya.
Aku mencoba berhenti, berhenti dari segala hal yang mengingatkanku tentangmu. Ternyata, aku hanya butuh waktu untuk melewatkan semua itu. Aku bisa lupa sejenak, bahkan sama sekali tidak ingat seperti orang amnesia saat aku bersama dengan orang-orang yang membuatku bahagia. Aku menemukan banyak hal yang tidak kutemukan di dunia lamaku, aku menemukan banyak teman meski mereka bukan teman yang tahu segalanya tentangku, tapi mereka tahu bagaimana cara agar buatku lupa dengan hal-hal yang menyedihkan.
Tragis. Aku mungkin memang bukan lagi jadi orang penting untukmu. Aku juga bukan seseorang yang kamu nantikan kepulangannya. Meski kamu pernah bilang, akulah yang kamu tunggu kepulangannya suatu saat jika aku jauh.
Kembali memang bukan pilihan. Mencari pun bukan menjadi salah satu hal yang harus kulakukan. Aku hanya berusaha bagaimana cara membuat kedua orang tuaku bangga dengan prestasi-prestasiku. Soal hati; sejauh ini, tidak ada yang sebaik kamu dalam memahamiku. Entah bodoh atau bahkan sangat bodoh, aku tidak menemukan yang kucari disini. Aku hanya bertemu mereka untuk sekedar kujadikan teman.
Soal seminggu lalu saat kita saling tatap, aku harap hari itu jadi hari terbaik saat kepulanganku ke rumah; Aku bertemu denganmu lagi. Tapi, harapku berlebih. Ku kira kita akan berbincang membicarakan hal-hal membahagiakan, terlepas dari masalalu; hal apapun tentang masa yang berusaha kupendam. Bahkan kamu tidak mengajakku bicara, menyapa pun tidak. Bagian mana yang harus aku perjelas? Sungguh, aku benci hari itu. Karna lebih baik aku tidak pernah bertemu daripada tak ada sapa meski telah bertatap.
Mungkin, aku hanya belum bisa melakukan hal-hal yang sudah kamu lakukan selama ini; sempurna melupa soalku. Aku tak masalah hanya karena kamu berhasil menemaniku melewati banyak rintangan tapi aku tak bisa menemani perjalananmu. Aku tidak marah hanya karena kamu tidak menyapaku hari itu; aku hanya ingin kita berdamai. Itu saja.
Mungkin pula, damai bagiku dan bagimu jauh berbeda. Aku tak minta kamu kembali membahagiakan dan menemani hari-hariku. Aku tak minta itu. Aku hanya ingin satu hal; jangan asing.
Let me be your friend, please.
Kini semua kenangan indah berubah jadi sirna,
ReplyDeleteTak apa, setidaknya ada kisah yang akan selalu terkenang.
ReplyDeleteItulah proses pendewasaan diri...
ReplyDeleteTidak hanya merasakan manisnya mencinta...
Namun kamu juga harus merasakan sakitnya kehilangan..
Puncak tertinggi merasa dicintai adalah merelakan dengan sepenuh hati, right?
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteBegitu indah masa remajaku; aku punya kamu. Meski tidak lagi
ReplyDeleteTidak indah lagi masa remajaku😂 gitu amat ka:'(
Mampir yaa⤵
https://fatmadn.blogspot.co.id/2017/11/tak-pernah-berpikir-ini-akan-terjadi.html?m=1
awkwkw ngga gitu juga sih kak, meski tidak lagi denganmu maksudnya. Ehe im done to visit your blog😂
Delete