Lalu jadi halu.
Kamu cepat, sedangkan aku lambat.
Kamu mudah, tapi aku susah.
Kamu bisa melewati semua, tapi aku di sini masih berusaha.
Kamu sudah sembuh, sedangkan aku masih sakit sendiri.
Kamu biasa saja, ternyata aku yang berat.
Hari itu;
Kamu punya alasan, aku yang ternganga mendengar penjelasan.
Kamu pikir memang sudah waktunya kita berakhir, aku pikir kita bisa mencoba untuk berjuang.
Kamu percaya semua takkan berhasil, tapi aku di sini masih yakin.
Pada akhirnya,
Kamu berhenti, tapi aku masih terus berjalan sendiri.
Kamu menyerah, sedangkan aku masih berjuang dalam doa.
Kamu payah, kini aku semakin melemah.
Kamu tahu aku sakit hati, tapi masih saja membuatku sulit untuk berdiri kembali.
Kamu tahu aku sukar menerima, tapi perkenalanku dengan perempuanmu (kini) itu ada.
Kamu tahu aku jatuh, tapi kamu benar-benar tidak peduli lagi.
Dari awal, aku berusaha menjadi yang lebih baik dengan bisa mengertimu setiap waktu.
Aku pikir, akulah satu-satunya yang benar-benar kamu jaga.
Aku pikir, akulah orang yang jika hilang akan berusaha kamu pertahankan.
Ternyata, semua pikiran-pikiran itu halu, kamu tidak begitu.
Tahukah kamu?
Dulu, aku tak masalah jika perempuan yang kamu ajak bicara hari-harimu bukan hanya aku.
Dulu, aku pun tak masalah jika kamu lebih asik dengan yang lain.
Aku memang pendatang di hidupmu sedangkan mereka lebih dulu mengenalmu, aku tahu itu.
Tapi, tahukah kamu?
Pelan-pelan aku takut; takut bicara, takut melepas segala unek-unek yang ada, dan lebih parahnya lagi adalah aku takut kehilanganmu, benar-benar takut kehilanganmu.
Hari itu;
Aku hanya diam, jika ada sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai dari cerita-ceritamu.
Aku tak berkata, seolah semua hal yang kamu lakukan pasti aku suka.
Aku mampu menahan, memendam, hingga amarah itu tidak pernah tersampaikan dengan baik.
Aku hanya tidak ingin rasa bahagia itu hilang darimu, padahal aku bisa cari bahagiaku sendiri haha.
Kamu acuh tak acuh, tidak peduli, berusaha untuk selalu terlihat baik-baik saja pada yang selalu percaya kamu sepenuhnya hari itu; aku, dia adalah perempuanmu dulu.
Permasalahan itu datang tiba-tiba tanpa diduga.
Kamu memilih untuk pasrah kemudian menyerah, tidak berjuang, pun tidak berusaha untuk menenangkanku hari itu.
Kamu memilih untuk berhenti, lari dari kenyataan, menyudahi segala hal yang sedang berjalan, dan mengambil keputusan sepihak; pergi dariku.
Ya, kepergianmu memang bukan inginku, sama sekali bukan inginku.
Dari dulu, aku berusaha mempertahankan sesuatu yang menurutku baik dan membahagiakan. Tapi kamu tidak sepertiku, wkwk.
Mungkin, karena memang kamu sudah siap jika segala cerita harus berakhir secepat itu. Mungkin itu inginmu, mungkin.
Perempuanmu itu, yang kini jadi milikmu; dia ada untuk jadi penolongmu, mengobati lukamu, menutup segala sedihmu, menenangkanmu bahwa masih ada yang lebih baik dari aku, dan kini jadi pengisi hari-harimu, jadi bahagiamu. Haha lucu.
Awalnya aku tak pernah menyangka hal itu akan terjadi.
Kamu pernah bilang; kamu tidak mudah mencari yang baru, pun kamu tidak mudah nyaman dengan orang baru untuk kamu jadikan salah satu sumber bahagiamu.
Omong kosong, nyatanya kamu secepat itu. Hehe, baiklah.
Aku berusaha mengerti keadaanmu yang sedang rapuh sepertiku itu.
Tapi, mengapa harus begitu?
mencari bahagia lain, itu memang hakmu.
Tapi, tahukah kamu?
aku di sini jatuh, sukar untuk bangkit, masih sendiri, dan tidak ingin diobati dengan yang lain.
Kamu mudah, lalu kenapa aku susah?
Harusnya dari awal aku percaya, bahwa semua perasaan tak karuan itu adalah petunjuk.
Harusnya dari awal aku belajar untuk berbicara apa yang membuatku tak enak hati padanya. Bukan malah memendam kemudian memilih untuk tetap melanjutkan tanpa saling terbuka satu sama lain.
Bagaimana bisa aku sebodoh itu?
Mempertahankan seseorang yang sebenarnya ingin pergi.
Menjaga perasaan seseorang yang sebenarnya tidak terlalu masalah jika aku tiba-tiba pergi.
Terima kasih telah mendengar semua cerita hidupku yang rumit dan tidak mudah diterima semua orang.
Terima kasih juga telah bersedia menemui bapakku siang itu, kamulah orang pertama yang bertemu dan bercengkrama dengan bapak.
Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan keluargamu malam itu. Setidaknya, aku bertemu ibu bapakmu untuk bercengkrama sebentar; mendengarkan petuah dari ibumu, menerima semua masukan dari kakakmu, terima kasih sudah diterima dengan baik meski pada akhirnya aku tidak bisa diterima untuk hari-hari berikutnya karena kriteria keluargaku yang tidak bisa diterima oleh ibumu. Hehehe terima kasih. Membersamaimu; aku tidak diperbolehkan.
Ada banyak kisah tentang kita, hari-hari di mana aku masih ingat jelas ketika kamu datang untukku, memintaku untuk menemani hari-harimu, menjadi saksi perjalanan hidupmu. Banyak hikmah, aku bersyukur telah mengenalmu, setidaknya aku pernah menemanimu berjuang, meski pada akhirnya bukan aku yang ada di sampingmu sekarang.
Doaku untukmu,
Semoga kamu sehat selalu, dilancarkan pekerjaanmu, dan dimudahkan jalan hidupmu.
Doakan aku di sini baik-baik saja tanpamu, doakan aku bisa berdamai dengan diriku sendiri, denganmu, dan dengan keadaan.
Mungkin, keegoisanku hanya satu; Aku belum selesai, terlebih jika aku melihatmu berbahagia di sana tanpaku.
150919
Mesh
Kamu mudah, tapi aku susah.
Kamu bisa melewati semua, tapi aku di sini masih berusaha.
Kamu sudah sembuh, sedangkan aku masih sakit sendiri.
Kamu biasa saja, ternyata aku yang berat.
Hari itu;
Kamu punya alasan, aku yang ternganga mendengar penjelasan.
Kamu pikir memang sudah waktunya kita berakhir, aku pikir kita bisa mencoba untuk berjuang.
Kamu percaya semua takkan berhasil, tapi aku di sini masih yakin.
Pada akhirnya,
Kamu berhenti, tapi aku masih terus berjalan sendiri.
Kamu menyerah, sedangkan aku masih berjuang dalam doa.
Kamu payah, kini aku semakin melemah.
Kamu tahu aku sakit hati, tapi masih saja membuatku sulit untuk berdiri kembali.
Kamu tahu aku sukar menerima, tapi perkenalanku dengan perempuanmu (kini) itu ada.
Kamu tahu aku jatuh, tapi kamu benar-benar tidak peduli lagi.
Dari awal, aku berusaha menjadi yang lebih baik dengan bisa mengertimu setiap waktu.
Aku pikir, akulah satu-satunya yang benar-benar kamu jaga.
Aku pikir, akulah orang yang jika hilang akan berusaha kamu pertahankan.
Ternyata, semua pikiran-pikiran itu halu, kamu tidak begitu.
Tahukah kamu?
Dulu, aku tak masalah jika perempuan yang kamu ajak bicara hari-harimu bukan hanya aku.
Dulu, aku pun tak masalah jika kamu lebih asik dengan yang lain.
Aku memang pendatang di hidupmu sedangkan mereka lebih dulu mengenalmu, aku tahu itu.
Tapi, tahukah kamu?
Pelan-pelan aku takut; takut bicara, takut melepas segala unek-unek yang ada, dan lebih parahnya lagi adalah aku takut kehilanganmu, benar-benar takut kehilanganmu.
Hari itu;
Aku hanya diam, jika ada sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai dari cerita-ceritamu.
Aku tak berkata, seolah semua hal yang kamu lakukan pasti aku suka.
Aku mampu menahan, memendam, hingga amarah itu tidak pernah tersampaikan dengan baik.
Aku hanya tidak ingin rasa bahagia itu hilang darimu, padahal aku bisa cari bahagiaku sendiri haha.
Kamu acuh tak acuh, tidak peduli, berusaha untuk selalu terlihat baik-baik saja pada yang selalu percaya kamu sepenuhnya hari itu; aku, dia adalah perempuanmu dulu.
Permasalahan itu datang tiba-tiba tanpa diduga.
Kamu memilih untuk pasrah kemudian menyerah, tidak berjuang, pun tidak berusaha untuk menenangkanku hari itu.
Kamu memilih untuk berhenti, lari dari kenyataan, menyudahi segala hal yang sedang berjalan, dan mengambil keputusan sepihak; pergi dariku.
Ya, kepergianmu memang bukan inginku, sama sekali bukan inginku.
Dari dulu, aku berusaha mempertahankan sesuatu yang menurutku baik dan membahagiakan. Tapi kamu tidak sepertiku, wkwk.
Mungkin, karena memang kamu sudah siap jika segala cerita harus berakhir secepat itu. Mungkin itu inginmu, mungkin.
Perempuanmu itu, yang kini jadi milikmu; dia ada untuk jadi penolongmu, mengobati lukamu, menutup segala sedihmu, menenangkanmu bahwa masih ada yang lebih baik dari aku, dan kini jadi pengisi hari-harimu, jadi bahagiamu. Haha lucu.
Awalnya aku tak pernah menyangka hal itu akan terjadi.
Kamu pernah bilang; kamu tidak mudah mencari yang baru, pun kamu tidak mudah nyaman dengan orang baru untuk kamu jadikan salah satu sumber bahagiamu.
Omong kosong, nyatanya kamu secepat itu. Hehe, baiklah.
Aku berusaha mengerti keadaanmu yang sedang rapuh sepertiku itu.
Tapi, mengapa harus begitu?
mencari bahagia lain, itu memang hakmu.
Tapi, tahukah kamu?
aku di sini jatuh, sukar untuk bangkit, masih sendiri, dan tidak ingin diobati dengan yang lain.
Kamu mudah, lalu kenapa aku susah?
Harusnya dari awal aku percaya, bahwa semua perasaan tak karuan itu adalah petunjuk.
Harusnya dari awal aku belajar untuk berbicara apa yang membuatku tak enak hati padanya. Bukan malah memendam kemudian memilih untuk tetap melanjutkan tanpa saling terbuka satu sama lain.
Bagaimana bisa aku sebodoh itu?
Mempertahankan seseorang yang sebenarnya ingin pergi.
Menjaga perasaan seseorang yang sebenarnya tidak terlalu masalah jika aku tiba-tiba pergi.
Terima kasih telah mendengar semua cerita hidupku yang rumit dan tidak mudah diterima semua orang.
Terima kasih juga telah bersedia menemui bapakku siang itu, kamulah orang pertama yang bertemu dan bercengkrama dengan bapak.
Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan keluargamu malam itu. Setidaknya, aku bertemu ibu bapakmu untuk bercengkrama sebentar; mendengarkan petuah dari ibumu, menerima semua masukan dari kakakmu, terima kasih sudah diterima dengan baik meski pada akhirnya aku tidak bisa diterima untuk hari-hari berikutnya karena kriteria keluargaku yang tidak bisa diterima oleh ibumu. Hehehe terima kasih. Membersamaimu; aku tidak diperbolehkan.
Ada banyak kisah tentang kita, hari-hari di mana aku masih ingat jelas ketika kamu datang untukku, memintaku untuk menemani hari-harimu, menjadi saksi perjalanan hidupmu. Banyak hikmah, aku bersyukur telah mengenalmu, setidaknya aku pernah menemanimu berjuang, meski pada akhirnya bukan aku yang ada di sampingmu sekarang.
Doaku untukmu,
Semoga kamu sehat selalu, dilancarkan pekerjaanmu, dan dimudahkan jalan hidupmu.
Doakan aku di sini baik-baik saja tanpamu, doakan aku bisa berdamai dengan diriku sendiri, denganmu, dan dengan keadaan.
Mungkin, keegoisanku hanya satu; Aku belum selesai, terlebih jika aku melihatmu berbahagia di sana tanpaku.
150919
Mesh
Comments
Post a Comment