Nano-nanođź‘…
Dalam hening, aku diam.
Membayangkan sosok baru yang tak pernah ku kenal sebelumnya.
Dalam keramaian, aku kembali terdiam.
Bertanya pada diri sendiri, siapakah dia?
Dalam sedih, ada hati yang terluka.
Mengingat yang susah dilupa.
Dalam bahagia, ada tangis sebelumnya.
Mendapatkan yang diinginkan.
Dalam gelisah, mungkin aku pasrah.
Dalam bait kata, kudapati tentang kau yang selalu menjadi topik.
Dalam hati yang gundah, ada rindu yang menggebu.
Biarkan saja aku rasakan semua.
Biarkan saja aku pasrah, rindu, dan berfikir tentang kamu.
Biarkan saja aku benci.
Membenci keadaan, berpura-pura tidak mengenalmu, dan melupakan.
Biar saja semua bertanya ada apa denganku(?)
Biar saja semua lelah menasehatiku.
Aku punya banyak cerita.
Cerita menarik yang tak pernah orang lain tahu.
Aku juga punya banyak alasan.
Alasan yang hingga kini adalah tentangmu.
Marah saja jika ingin. Benci saja jika benci. Lupakan saja jika sudah muak.
Aku cukup tahu tentang keadaanmu kini.
Meski kau tak pernah bercerita pada siapapun.
Tapi ingatlah, aku tidak menginginkanmu kembali.
Aku tidak menginginkanmu hadir [lagi].
Aku hanya ingin lupa. Itu saja.
Ingin lepas dari jeratan masa lalu yang sangat membahagiakan hati bahkan hingga menjadi sakit yang luarbiasa.
Ada sosok yang kau benci, ada hati yang kau buang, dan ada janji yang kau lupa.
Aku tidak memintamu untuk memenuhinya. Aku tidak memintamu untuk bersamaku [lagi].
Aku hanya ingin lupa (2)
Itu saja.
Jangan anggap aku berbeda.
Jangan anggap aku tak sama.
Anggaplah aku sama dengan yang lain, sama seperti temantemanku yang lain.
Bersikaplah layaknya kau dengan temantemanku.
Bukan soal istimewa. Bukan soal spesial. Bukan soal hati.
Tapi jangan acuhkan aku. Jangan biarkan aku hanya terdiam tanpa dapat perhatian kecil darimu.
Aku ini apa? Kau anggap apa? Kau anggap tiada?
Bukan soal ingin diperhatikan! Setidaknya, hargai usahaku bersikap biasa padamu, bersikap tidak membencimu!
Aku hanya ingin lupa (3)
Just that.
Sesakit apapun hati ini, aku tak bisa membencimu.
Mengingat masa-masa indah yang pernah terjadi hingga aku sukar untuk melupakannya.
Dibahagiakan hingga aku lupa bagaimana caranya berhenti.
Dan disakiti hingga aku sukar sekali menghilangkannya.
Entah rasa apa. Nano-nanođź’”
Membayangkan sosok baru yang tak pernah ku kenal sebelumnya.
Dalam keramaian, aku kembali terdiam.
Bertanya pada diri sendiri, siapakah dia?
Dalam sedih, ada hati yang terluka.
Mengingat yang susah dilupa.
Dalam bahagia, ada tangis sebelumnya.
Mendapatkan yang diinginkan.
Dalam gelisah, mungkin aku pasrah.
Dalam bait kata, kudapati tentang kau yang selalu menjadi topik.
Dalam hati yang gundah, ada rindu yang menggebu.
Biarkan saja aku rasakan semua.
Biarkan saja aku pasrah, rindu, dan berfikir tentang kamu.
Biarkan saja aku benci.
Membenci keadaan, berpura-pura tidak mengenalmu, dan melupakan.
Biar saja semua bertanya ada apa denganku(?)
Biar saja semua lelah menasehatiku.
Aku punya banyak cerita.
Cerita menarik yang tak pernah orang lain tahu.
Aku juga punya banyak alasan.
Alasan yang hingga kini adalah tentangmu.
Marah saja jika ingin. Benci saja jika benci. Lupakan saja jika sudah muak.
Aku cukup tahu tentang keadaanmu kini.
Meski kau tak pernah bercerita pada siapapun.
Tapi ingatlah, aku tidak menginginkanmu kembali.
Aku tidak menginginkanmu hadir [lagi].
Aku hanya ingin lupa. Itu saja.
Ingin lepas dari jeratan masa lalu yang sangat membahagiakan hati bahkan hingga menjadi sakit yang luarbiasa.
Ada sosok yang kau benci, ada hati yang kau buang, dan ada janji yang kau lupa.
Aku tidak memintamu untuk memenuhinya. Aku tidak memintamu untuk bersamaku [lagi].
Aku hanya ingin lupa (2)
Itu saja.
Jangan anggap aku berbeda.
Jangan anggap aku tak sama.
Anggaplah aku sama dengan yang lain, sama seperti temantemanku yang lain.
Bersikaplah layaknya kau dengan temantemanku.
Bukan soal istimewa. Bukan soal spesial. Bukan soal hati.
Tapi jangan acuhkan aku. Jangan biarkan aku hanya terdiam tanpa dapat perhatian kecil darimu.
Aku ini apa? Kau anggap apa? Kau anggap tiada?
Bukan soal ingin diperhatikan! Setidaknya, hargai usahaku bersikap biasa padamu, bersikap tidak membencimu!
Aku hanya ingin lupa (3)
Just that.
Sesakit apapun hati ini, aku tak bisa membencimu.
Mengingat masa-masa indah yang pernah terjadi hingga aku sukar untuk melupakannya.
Dibahagiakan hingga aku lupa bagaimana caranya berhenti.
Dan disakiti hingga aku sukar sekali menghilangkannya.
Entah rasa apa. Nano-nanođź’”
Comments
Post a Comment