Aku rindu.

Lebih sakit mana, rindu tanpa temu atau temu tanpa sapa?

Bagi sebagian, mungkin rindu tak hanya soal temu. Adakalanya rindu membuat temu lebih berarti.

Perihal jarak, ku titipkan rinduku padamu; tentang segala cerita yang belum sempat kuceritakan.
Perihal rindu, aku tak ahli soal menahan.
Perihal waktu, aku tak berhak tuk jadi sesuatu yang selalu kamu utamakan.
Dahulu, tak ada temu terasa hambar, kaku, bahkan asing. Waktu yang membuatnya berubah.
Kini, tak ada lagi rindu berujung temu. Bahkan, untuk menjadi sesuatu yang kamu rindukan pun tak lagi.

Aku tak pernah berharap semua kembali dengan keadaan berbeda.
Aku tak pernah membayangkan, bagaimana jika tak ada lagi sapa di antara kita. Bahkan bertemu pun tak mungkin lagi kecuali waktu yang menyatukan.

Jauhmu, jauhku, semoga ini yang terbaik. Soal apaapa yang kamu sudahi begitu saja, semoga tak ada penyesalan di kemudian hari.
Soal bosan, semoga kamu tak mengucapkannya pada yang selain aku.
Soal rindu, maaf aku selalu rindu tentang semua kenangan itu.
Semua kenangan itu; buatku ingin kembali menjalani, menikmati, bahkan mensyukuri adanya kamu dalam cerita itu.
Ah tak perlu berimajinasi, semua sudah tak lagi sejalan dengan hati.

Terimakasih untuk segala rindurindu yang tak berujung.
Terimakasih untuk segala waktu yang menjauhkan hati masingmasing.
Teruntuk kamu yang jauh disana, semoga ada sapa lagi di antara kita.

Aku bungkam, diam.
Bahkan aku bukan apaapa lagi yang ada di rencana temu mu.
Aku merindu,
Tentang segala hal.
Aku merindu,
Tentang waktu yang selalu buatku ingin.

Semoga di hari bersejarahmu ini, segalanya dimudahkan.
Nyatanya, lebih sakit tak ada temu karena tak ada lagi yang bisa kupandang.
Aku rindu.


Comments