Tetaplah dekat meski terpisah.
Bosan; alasan klasik yang kebanyakan berakhir dengan tanda titik alias selesai.
Selamat sore, rindu.
Apakabar? Bagaimana? Sudah berdamai dengan keadaan atau belum? Sudah bisa memaafkan atau malah tak suka untuk bermaafan?
Apa yang berubah? Belum tampak jelas. Masih sama, dengan keadan yang suka rindu kamu.
Apa yang disesali? Masih sama, beberapa waktu yang lalu saat kamu masih jadi -ku untukku. Bukan menyesal, aku hanya ingin memperbaiki.
Sejauh apa? Jauh ya, jauh sekali. Bagaikan terpisah berkilometer. Kita tak lagi jauh di mata, tapi juga jauh di hati.
Berat ya, melepas sesuatu yang pernah tergenggam. Meski sepertinya tidak mungkin, aku tetap ingin lupa sejenak.
Ada banyak cerita semenjak kamu pergi. Tertumpuk jadi satu entah kapan aku bisa menceritakannya seperti dulu.
Hambar. Tak berasa.
Tapi bagaimanapun, semua harus berjalan meski tanpa kamu-
Hidupku tidak selalu soal kamu, hanya saja ada bagian yang hilang dari kebiasaanku.
Memang benar, bosan kebanyakan hanya jadi alasan untuk menghilang. Seperti kamu. Hilang bersama harapan.
Masih teringat jelas, hari dimana kamu berkata bosan. Masih tertulis dalam bayang, hari dimana dan kapan kamu membahagiakan. Membawaku ke manapun ku mau, membawaku pergi jauh dari rumah, bersama senja yang menjadi saksi bisu bahagiaku denganmu hari itu.
Bersama angan, aku yakin segalanya takkan pernah terlupakan. Meski kamu berusaha keras melupakan.
Hari-hariku biasa saja. Berwarna jika aku ingin mewarnainya dengan cara mengabaikan pikiran-pikiranku tentangmu.
Duniaku kini masih kaku. Aku tak banyak mengenal orang ini itu, tak punya banyak cerita dengan keadaan semacam ini. Flat.
Hanya bisa berandai-andai. Hanya bisa berharap ada pertemuan kembali.
Aku hanya butuh damai dengan diriku sendiri, denganmu, juga dengan hatiku. Agar semua harapku lekas berhenti, agar semua rinduku lekas ku beri pada yang selain kamu, agar aku bisa menikmati dunia baruku tanpa berfikir tentangmu.
Bosan memang jadi alasan klasik, pun kau lontarkan kata itu padaku. Aku benci dengan keadaan, tak bisa berkata pun tak bisa beranjak. Aku masih disini dengan rindu-rindu ku, masih sendiri dengan sejuta harap yang takkan pernah ada jawabnya.
Hadirmu pun, bagai seseorang yang baru berkenalan.
Say 'hai' kemudian 'gdbye'. Jelas sekali, kamu bukan kamu yang dulu. Lantas apa yang masih bisa ku harapkan dari semua itu? Harusnya tak ada dan harusnya aku tak sebodoh itu. Tapi setidaknya kamu ada meski tak selalu. Setidaknya kamu mengenalku, hingga aku bukan jadi orang asing untukmu.
Belasan kalimat yang tertera dalam doa di sepanjang sujudku, semoga Tuhan mendengarnya. Aku ingin rinduku tersampaikan lewat doa-doa yang kupanjatkan. Aku ingin kamu berhasil dengan semua mimpi-mimpi itu. Bahkan aku iri, ketika kamu berhasil buatku bangkit lalu aku bisa meraih apa yang kuinginkan. Aku iri karena kamu ada untukku, mendampingi mengingatkan, pun mendoakan keberhasilanku. Tapi kini aku tak bisa menjadi sepertimu. Aku hanya bisa menunggu kabar baikmu setiap waktu.
Perihal rindu, semoga segala rindu-rinduku cepat selesai.
Perihal jarak, semoga tak ada rindu-rindu tentangmu lagi.
Perihal waktu, semoga aku lekas berdamai dengan keadaan.
Perihal kamu, semoga tak pernah menyesal karena aku sudah jadi bagian dari masalalumu.
Tetaplah dekat meski terpisah. Jangan jadi yang asing bila ingin berdamai denganku. Kamu bisa sejenak mengabaikan, aku pun harus bisa melakukannya.
Salam untukmu, pemilik rinduku beberapa hari yang lalu.
Selamat sore, rindu.
Apakabar? Bagaimana? Sudah berdamai dengan keadaan atau belum? Sudah bisa memaafkan atau malah tak suka untuk bermaafan?
Apa yang berubah? Belum tampak jelas. Masih sama, dengan keadan yang suka rindu kamu.
Apa yang disesali? Masih sama, beberapa waktu yang lalu saat kamu masih jadi -ku untukku. Bukan menyesal, aku hanya ingin memperbaiki.
Sejauh apa? Jauh ya, jauh sekali. Bagaikan terpisah berkilometer. Kita tak lagi jauh di mata, tapi juga jauh di hati.
Berat ya, melepas sesuatu yang pernah tergenggam. Meski sepertinya tidak mungkin, aku tetap ingin lupa sejenak.
Ada banyak cerita semenjak kamu pergi. Tertumpuk jadi satu entah kapan aku bisa menceritakannya seperti dulu.
Hambar. Tak berasa.
Tapi bagaimanapun, semua harus berjalan meski tanpa kamu-
Hidupku tidak selalu soal kamu, hanya saja ada bagian yang hilang dari kebiasaanku.
Memang benar, bosan kebanyakan hanya jadi alasan untuk menghilang. Seperti kamu. Hilang bersama harapan.
Masih teringat jelas, hari dimana kamu berkata bosan. Masih tertulis dalam bayang, hari dimana dan kapan kamu membahagiakan. Membawaku ke manapun ku mau, membawaku pergi jauh dari rumah, bersama senja yang menjadi saksi bisu bahagiaku denganmu hari itu.
Bersama angan, aku yakin segalanya takkan pernah terlupakan. Meski kamu berusaha keras melupakan.
Hari-hariku biasa saja. Berwarna jika aku ingin mewarnainya dengan cara mengabaikan pikiran-pikiranku tentangmu.
Duniaku kini masih kaku. Aku tak banyak mengenal orang ini itu, tak punya banyak cerita dengan keadaan semacam ini. Flat.
Hanya bisa berandai-andai. Hanya bisa berharap ada pertemuan kembali.
Aku hanya butuh damai dengan diriku sendiri, denganmu, juga dengan hatiku. Agar semua harapku lekas berhenti, agar semua rinduku lekas ku beri pada yang selain kamu, agar aku bisa menikmati dunia baruku tanpa berfikir tentangmu.
Bosan memang jadi alasan klasik, pun kau lontarkan kata itu padaku. Aku benci dengan keadaan, tak bisa berkata pun tak bisa beranjak. Aku masih disini dengan rindu-rindu ku, masih sendiri dengan sejuta harap yang takkan pernah ada jawabnya.
Hadirmu pun, bagai seseorang yang baru berkenalan.
Say 'hai' kemudian 'gdbye'. Jelas sekali, kamu bukan kamu yang dulu. Lantas apa yang masih bisa ku harapkan dari semua itu? Harusnya tak ada dan harusnya aku tak sebodoh itu. Tapi setidaknya kamu ada meski tak selalu. Setidaknya kamu mengenalku, hingga aku bukan jadi orang asing untukmu.
Belasan kalimat yang tertera dalam doa di sepanjang sujudku, semoga Tuhan mendengarnya. Aku ingin rinduku tersampaikan lewat doa-doa yang kupanjatkan. Aku ingin kamu berhasil dengan semua mimpi-mimpi itu. Bahkan aku iri, ketika kamu berhasil buatku bangkit lalu aku bisa meraih apa yang kuinginkan. Aku iri karena kamu ada untukku, mendampingi mengingatkan, pun mendoakan keberhasilanku. Tapi kini aku tak bisa menjadi sepertimu. Aku hanya bisa menunggu kabar baikmu setiap waktu.
Perihal rindu, semoga segala rindu-rinduku cepat selesai.
Perihal jarak, semoga tak ada rindu-rindu tentangmu lagi.
Perihal waktu, semoga aku lekas berdamai dengan keadaan.
Perihal kamu, semoga tak pernah menyesal karena aku sudah jadi bagian dari masalalumu.
Tetaplah dekat meski terpisah. Jangan jadi yang asing bila ingin berdamai denganku. Kamu bisa sejenak mengabaikan, aku pun harus bisa melakukannya.
Salam untukmu, pemilik rinduku beberapa hari yang lalu.
Comments
Post a Comment