+-210 hari lagi.
Satu hal yang tak bisa kubayangkan. Kelak, ketika waktu memisahkan kita. Ketika semua harus berakhir dan perpisahan menjadi bagian cerita yang paling kubenci.
Aku masih ingat, segala hal yang pernah kita lakukan. Bermain bersama, saling tatap, kemudian tersenyum seolah kamu memberiku isyarat.
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya nanti ketika aku dan kamu benar benar saling jauh? Atau kamu sudah meninggalkan tempat dimana kita bertemu tapi aku masih disitu?
Bagaimana bisa aku melalui hari tanpa tawa itu?
Bergurau untuk setiap hari, duduk bersama saling menguatkan, memberikan wejangan yang mungkin tak bisa kuingat semua.
Bagaimana bisa aku berhenti mengingatmu? Sudah jelas, kamu jauh disana dan mungkin lupa denganku.
Tapi hidupku harus terus berlanjut, berjalab, dan melanjutkan perjuanganku yang belum usai. Walaupun tidak ada lagi penyemangat, tidak ada lagi pengingat, tidak ada lagi penghibur.
Kamu selalu jadi yang luarbiasa. Meski pada akhirnya harus sendiri sendiri seperti ini. Meski pada akhirnya tidak seasik dulu.
Padahal cerita kita belum usai. Belum sampai pada bagian akhir cerita. Karena kamu mengakhiri semua tanpa mempedulikan hatiku, tanpa melihat cerita kita yang sudah lalu. Meski bukan apa-apa, tapi tetap semua adalah cerita, kenangan di hari itu, kenangan yang bahkan mustahil untuk diulang.
Masalalumu masih mengikat otakmu, mengusahakanmu agar tidak lupa, membiarkanmu untuk rindu dan terus rindu.
Seolah tidak bisa pergi dan membuka lembaran baru. Aku tahu itu, seberapa banyak kamu buatku ingin, seberapa banyak kamu buatku yakin, ketika hatimu tak bisa meyakininya, maka takkan pernah maju, kakimu bergerak tuk maju kemudian mundur lagi, maju lagi dan akhirnya mundur.
Ingat tidak? Hari dimana kamu benar benar membuatku lupa akan masalaluku?
Ingat tidak? Hari dimana kita selalu tertawa bersama dengan cara kita, dengan cerita yang mungkin orang lain tak bisa memahaminya, permainan kecil yang bahkan hanya aku dan kamu yang memainkannya.
Ingat tidak? Hari dimana kamu benar benar menjadikanku sebagai bahagiamu? Hari dimana aku selalu merasa sepi saat tak ada kamu.
Ingat tidak? Hari dimana kamu menguatkanku? Memberiku semangat, meyakinkanku bahwa kita akan sukses bersama, karena bagimu tak ada yang tak mungkin, karena bagimu akan ada jalan bagi orang yabg berusaha, karena bagimu, Allah akan memberikan sesuatu itu padaku.
Kamu tau, siapa yang buatku bangkit lagi? Kamu tau, siapa yang bisa buatku yakin lagi? Kamu bilang, "yakin pada diri sendiri. Kalau hatimu saja tidak yakin, bagaimana bisa Allah yakin padamu?"
Aku masih ingat. Sangat jelas. Bahkan aku bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dibadingkan sebelumnya, itupun karena kamu.
Lalu, kamu pergi begitu saja? Pergi dengan berminta maaf sebelumnya? Dengan mengatakan, "Maaf jika punya salah."
Bahkan kamu tak pernah salah, sedikitpun.
Aku tak habis pikir, apa yang mereka katakan padamu hari itu. Yang kutau, kau berubah sejak mereka berbincang denganmu.
Tak ada lagi tatapan, tak ada lagi penyemangat, tak ada lagi candaan, tak ada lagi gurauan. Hilang semua.
Bahkan jika bisa aku berkata di depan matamu, aku akan berkata, "bahkan sebenarnya aku tak suka teman yang canggung."
Camkan baikbaik. Sayang, aku tak bisa mengatakannya. Bertemu denganmu saja, semua sudah beda. Tak ada lagi teman yang ku artikan temanbaik. Jauh berbeda.
Dan meski hari ini sebelum aku berpisah denganmu kelak, doaku tetap untukmu yang selalu mendoakanku dengan selalu. Meski langit tak berkata bahwa dirinya tinggi. Meski hati tak bisa buatmu berkata.
Jauh atau tidaknya kita nanti, semoga Tuhan menemukan kita di lain tempat dan waktu dengan cerita yang berbeda.
Semoga kamu tetap ingat meski berusaha untuk lupa.
Aku bahkan tak ingin menjadi pengganggu, tak ingin menjadi sosok yang selalu merindu, tapi aku ingin, kamu berubah dan kembali seperti yang pernah kukenal dulu sebelum waktu memisahkan kita. +-210 hari lagi.
Aku masih ingat, segala hal yang pernah kita lakukan. Bermain bersama, saling tatap, kemudian tersenyum seolah kamu memberiku isyarat.
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya nanti ketika aku dan kamu benar benar saling jauh? Atau kamu sudah meninggalkan tempat dimana kita bertemu tapi aku masih disitu?
Bagaimana bisa aku melalui hari tanpa tawa itu?
Bergurau untuk setiap hari, duduk bersama saling menguatkan, memberikan wejangan yang mungkin tak bisa kuingat semua.
Bagaimana bisa aku berhenti mengingatmu? Sudah jelas, kamu jauh disana dan mungkin lupa denganku.
Tapi hidupku harus terus berlanjut, berjalab, dan melanjutkan perjuanganku yang belum usai. Walaupun tidak ada lagi penyemangat, tidak ada lagi pengingat, tidak ada lagi penghibur.
Kamu selalu jadi yang luarbiasa. Meski pada akhirnya harus sendiri sendiri seperti ini. Meski pada akhirnya tidak seasik dulu.
Padahal cerita kita belum usai. Belum sampai pada bagian akhir cerita. Karena kamu mengakhiri semua tanpa mempedulikan hatiku, tanpa melihat cerita kita yang sudah lalu. Meski bukan apa-apa, tapi tetap semua adalah cerita, kenangan di hari itu, kenangan yang bahkan mustahil untuk diulang.
Masalalumu masih mengikat otakmu, mengusahakanmu agar tidak lupa, membiarkanmu untuk rindu dan terus rindu.
Seolah tidak bisa pergi dan membuka lembaran baru. Aku tahu itu, seberapa banyak kamu buatku ingin, seberapa banyak kamu buatku yakin, ketika hatimu tak bisa meyakininya, maka takkan pernah maju, kakimu bergerak tuk maju kemudian mundur lagi, maju lagi dan akhirnya mundur.
Ingat tidak? Hari dimana kamu benar benar membuatku lupa akan masalaluku?
Ingat tidak? Hari dimana kita selalu tertawa bersama dengan cara kita, dengan cerita yang mungkin orang lain tak bisa memahaminya, permainan kecil yang bahkan hanya aku dan kamu yang memainkannya.
Ingat tidak? Hari dimana kamu benar benar menjadikanku sebagai bahagiamu? Hari dimana aku selalu merasa sepi saat tak ada kamu.
Ingat tidak? Hari dimana kamu menguatkanku? Memberiku semangat, meyakinkanku bahwa kita akan sukses bersama, karena bagimu tak ada yang tak mungkin, karena bagimu akan ada jalan bagi orang yabg berusaha, karena bagimu, Allah akan memberikan sesuatu itu padaku.
Kamu tau, siapa yang buatku bangkit lagi? Kamu tau, siapa yang bisa buatku yakin lagi? Kamu bilang, "yakin pada diri sendiri. Kalau hatimu saja tidak yakin, bagaimana bisa Allah yakin padamu?"
Aku masih ingat. Sangat jelas. Bahkan aku bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dibadingkan sebelumnya, itupun karena kamu.
Lalu, kamu pergi begitu saja? Pergi dengan berminta maaf sebelumnya? Dengan mengatakan, "Maaf jika punya salah."
Bahkan kamu tak pernah salah, sedikitpun.
Aku tak habis pikir, apa yang mereka katakan padamu hari itu. Yang kutau, kau berubah sejak mereka berbincang denganmu.
Tak ada lagi tatapan, tak ada lagi penyemangat, tak ada lagi candaan, tak ada lagi gurauan. Hilang semua.
Bahkan jika bisa aku berkata di depan matamu, aku akan berkata, "bahkan sebenarnya aku tak suka teman yang canggung."
Camkan baikbaik. Sayang, aku tak bisa mengatakannya. Bertemu denganmu saja, semua sudah beda. Tak ada lagi teman yang ku artikan temanbaik. Jauh berbeda.
Dan meski hari ini sebelum aku berpisah denganmu kelak, doaku tetap untukmu yang selalu mendoakanku dengan selalu. Meski langit tak berkata bahwa dirinya tinggi. Meski hati tak bisa buatmu berkata.
Jauh atau tidaknya kita nanti, semoga Tuhan menemukan kita di lain tempat dan waktu dengan cerita yang berbeda.
Semoga kamu tetap ingat meski berusaha untuk lupa.
Aku bahkan tak ingin menjadi pengganggu, tak ingin menjadi sosok yang selalu merindu, tapi aku ingin, kamu berubah dan kembali seperti yang pernah kukenal dulu sebelum waktu memisahkan kita. +-210 hari lagi.
Comments
Post a Comment