Gataudehya
Seseorang pernah berkata, bahwa hidup itu memilih.
Aku percaya, suatu hari aku akan memilih untuk berulang kali.
Seseorang pernah bekata padaku, "Jangan berhenti di tengah jalan. Awas ditabrak."
Aku mengerti, bahwa berjuang itu semu. Tak tahu ujungnya meski hati yakin bahwa rencana Allah pasti baik.
Aku paham, bahwa berjuang tibatiba berhenti sebelum ujung, akan jauh lebih sakit.
Seseorang pernah menguatkanku, "Kamu itu cemen, kamu mudah menyerah, kamu tidak pernah percaya pada dirimu sendiri, kamu itu tidak pantas menjadi yang terbaik disini. Untuk apa dilanjutkan? Harusnya kamu keluar."
Dari situlah kutahu, dia tak ingin aku berhenti di tengah jaln. Dia tak ingin melihatku terdiam ketika yang lain sedang asik berjuang.
Hidup memang tidak semudah perkataan.
Banyak hal yang harus dipilih, dinikmati, kemudian dilepaskan.
Tidak selamanya yang kita mau bisa selalu ada. Tidak selamanya yang kuta ingin bisa selalu hadir. Tidak selamanya pula bahagia itu ada.
Aku pernah dengar, "Bersyukur yang membuat kita bahagia. Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur."
Seharusnya aku bisa menerapkannya.
Aku pernah membaca, "Untuk apa berhenti jika selangkah lagi sudah sampai ke tempat tujuan?"
Seharusnya aku sadar akan hal itu. Bahwa menyerah bukan hal yang tepat.
Seharusnya aku malu. Aku pernah berkata pada diriku bahwa aku akan tetap maju apapun rintangannya.
Pada kenyataannya? Aku berhenti tengah jalan. Mundur tak mau, maju pun ragu. "Hidup segan mati tak mau." kata mama.
Banyak yang buatku rapuh dan berhenti.
Persoalan hidup yang setauku rumit, dimana aku harus memilih. Entah mundur atau maju dengan setengah hati.
Seharusnya aku malu pada Tuhanku. Aku yang meminta namun aku juga yang menolaknya.
Ibarat hujan, aku ingin bermain dalam hujan tapi aku tak mau sakit grge hujan.
"Tidak ada yang memaksa. Itu pilihan kamu sendiri. Apapun dan bagaimanapun hasilnya nanti, setidaknya kamu berusaha. Yakin saja, rencana Allah itu cantik, Nak. Dua atau tiga, you are the best for us." -ayah
"Kamu ini bagaimana? Maunya apa? Jangan jadi yang tidak punya semangat. Hidup itu ya begini, memilih. Kamu sudah memilih, kamu juga harus menjalani. Berjuang!" -mama
Bersyukur punya mereka yang bisa menenangkan hati. Bersyukur punya mereka yang selalu bisa mengerti.
Kadang aku berfikir, ada tidak cerita lain lagi? Cerita yang sama rumitnya denganku dan dirasakan orang lain?
"Segini saja menyerah. Kapan majunya?"
"Segini saja pasrah, kapan berjuangnya?"
Dari semua hal, dapat kusimpulkan bahwa hidup itu ya begini, rumit. Tapi medewasakan😅
Jadi yang membanggakan atau tidak, ah Allah punya rencana yang indah. Yakin saja, buat apa disesali? Toh ini sudah jalannya.
Ada hikmah dibalik semua kejadian, ada kenangan dibalik peristiwa.
Hidup memang tidak sesimple itu😅 butuh berkorban.
Aku percaya, suatu hari aku akan memilih untuk berulang kali.
Seseorang pernah bekata padaku, "Jangan berhenti di tengah jalan. Awas ditabrak."
Aku mengerti, bahwa berjuang itu semu. Tak tahu ujungnya meski hati yakin bahwa rencana Allah pasti baik.
Aku paham, bahwa berjuang tibatiba berhenti sebelum ujung, akan jauh lebih sakit.
Seseorang pernah menguatkanku, "Kamu itu cemen, kamu mudah menyerah, kamu tidak pernah percaya pada dirimu sendiri, kamu itu tidak pantas menjadi yang terbaik disini. Untuk apa dilanjutkan? Harusnya kamu keluar."
Dari situlah kutahu, dia tak ingin aku berhenti di tengah jaln. Dia tak ingin melihatku terdiam ketika yang lain sedang asik berjuang.
Hidup memang tidak semudah perkataan.
Banyak hal yang harus dipilih, dinikmati, kemudian dilepaskan.
Tidak selamanya yang kita mau bisa selalu ada. Tidak selamanya yang kuta ingin bisa selalu hadir. Tidak selamanya pula bahagia itu ada.
Aku pernah dengar, "Bersyukur yang membuat kita bahagia. Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur."
Seharusnya aku bisa menerapkannya.
Aku pernah membaca, "Untuk apa berhenti jika selangkah lagi sudah sampai ke tempat tujuan?"
Seharusnya aku sadar akan hal itu. Bahwa menyerah bukan hal yang tepat.
Seharusnya aku malu. Aku pernah berkata pada diriku bahwa aku akan tetap maju apapun rintangannya.
Pada kenyataannya? Aku berhenti tengah jalan. Mundur tak mau, maju pun ragu. "Hidup segan mati tak mau." kata mama.
Banyak yang buatku rapuh dan berhenti.
Persoalan hidup yang setauku rumit, dimana aku harus memilih. Entah mundur atau maju dengan setengah hati.
Seharusnya aku malu pada Tuhanku. Aku yang meminta namun aku juga yang menolaknya.
Ibarat hujan, aku ingin bermain dalam hujan tapi aku tak mau sakit grge hujan.
"Tidak ada yang memaksa. Itu pilihan kamu sendiri. Apapun dan bagaimanapun hasilnya nanti, setidaknya kamu berusaha. Yakin saja, rencana Allah itu cantik, Nak. Dua atau tiga, you are the best for us." -ayah
"Kamu ini bagaimana? Maunya apa? Jangan jadi yang tidak punya semangat. Hidup itu ya begini, memilih. Kamu sudah memilih, kamu juga harus menjalani. Berjuang!" -mama
Bersyukur punya mereka yang bisa menenangkan hati. Bersyukur punya mereka yang selalu bisa mengerti.
Kadang aku berfikir, ada tidak cerita lain lagi? Cerita yang sama rumitnya denganku dan dirasakan orang lain?
"Segini saja menyerah. Kapan majunya?"
"Segini saja pasrah, kapan berjuangnya?"
Dari semua hal, dapat kusimpulkan bahwa hidup itu ya begini, rumit. Tapi medewasakan😅
Jadi yang membanggakan atau tidak, ah Allah punya rencana yang indah. Yakin saja, buat apa disesali? Toh ini sudah jalannya.
Ada hikmah dibalik semua kejadian, ada kenangan dibalik peristiwa.
Hidup memang tidak sesimple itu😅 butuh berkorban.
Comments
Post a Comment