-


Perasaan yang entah

Pernahkan kamu khawatir bagaimana keadaanku? Pernahkah kamu berpikir bahwa aku akan mencarimu (lagi) ? Dan pernahkah kamu ingin kembali? Haha. Pertanyaan bodoh yang sudah pasti kau jawab ‘tidak’. Aku ini apa, hanya seberkas masa lalu, pengindah hari-harimu dulu, dan seseorang yang tidak kau sayang lagi bahkan tidak kau kenang. Aku tahu, kau baik-baik saja disana tanpaku. Mencari tahu tentangmu bukan lagi menjadi hobiku. Aku berhenti dari pekerjaan yang tak berguna itu. Meyakini segalanya akan baik-baik saja, itu yang kulakukan.

Ibarat bunga di taman, kau pilih satu yang menurutmu paling indah. Haha dulu kau melakukannya, kemudian akulah yang menjadi bungamu. Setelahnya, kau rawat bunga itu, menjaganya agar tak layu, dan menjadikan bunga itu tetap indah.

Mungkin kau lelah menjaganya, hingga kau tak menyadarinya bahwa bunga itu tak lagi indah bahkan telah layu. Kemudian, kau pilih satu lagi bunga yang paliiiiing indah bahkan lebih indah dari sebelumnya. Dengan mudahnya, kau buang bunga layu itu, seolah tidak merasa bersalah dan beralasan ‘aku jarang merawatnya’.

Pernahkah kau berpikir, bagaimana perasaanku? Kau diamkan aku, kau biarkan aku melewati hari tanpamu, dan kau asyik bersama dengan dunia barumu. Bagimu, kau tak pernah salah dan selalu saja benar. Aku bisa apa? Hanya berpura-pura baik-baik saja kala itu, pura-pura tidak mengerti, dan berharap kau akan kembali. Bodoh. Perasaan yang entah apa namanya. Masih saja aku teringat tentang semua, merindukanmu, merindukan semua kenangan itu. Kaulah penyejuk hariku, bulan yang mengindahkan malamku, dan superhero yang melindungiku di kala itu. Di saat kutau kau bahagia dengan dia, hatiku tersayat. Jangan ditanya kenapa, karena perasaan ini masih sama seperti pertama kali aku memilihmu. Hanya bisa diam dan meilhat, merindu, kemudian merindu lagi.

Kau memang bukan lagi pengindah hari-hariku, bukan lagi pewarna hari-hariku. Tapi bukan  berarti kau terlupakan olehku. Bukankah segala kenangan harus dilupakan agar tidak selalu ingat? Ya, aku tahu itu. Tapi, itu bukan pilihanku. Aku ini bukan pendendam, aku ini bukan pembenci, dan aku tidak akan pernah melupakan. Seandainya kau tahu, perasaan ini masih tersisa sedikit untukmu, untuk orang yang pernah hadir membahagiakan kemudian pergi menyakiti.

Karena perasaan yang entah ini, aku selalu berdoa semoga kamu baik-baik saja. Setidaknya, aku tidak melupakan bahkan membencimu. Tidak akan. Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan untukmu. Pergilah jika ingin pergi. Jangan diingat jika itu akan membuatmu sakit. Lupakan jika ingin melupakan. Tapi ingat, pada akhirnya yang meninggalkan juga akan ditinggalkan.

Ini aku yang pernah menjadi bungamu, yang pernah kau rawat dan kau jaga sepenuh hati, kemudian kau buang. Semoga kau masih mengingatku (:
-Mesh-

Comments