Teman Sejati (Part 2)
Setelah
mengikuti tes seleksi masuk kelas SCI, kami pasrah karena soal yang kami
kerjakan cukup sulit untuk dipecahkan. Dua hari kemudian, ternyata nama kami
tercantum dalam penerimaan siswa baru kelas SCI. Betapa bahagianya kami,
menerima rapor dengan nilai yang cukup memuaskan dan diterima menjadi bagian
dari kelas SCI. Tak henti-hentinya kami bersyukur, kebanggaan bagi kami bisa
membuat kedua orang tua bahagia. “Yeey, selamat ya untuk kita.” Ucap Nita
dengan tawa bahagianya. “Ciyeee SCI, selamat juga ya.” Tambah Riko dengan
senyumnya. “Heeemmmmm, selamat untuk kita. Semoga menjadi yang membanggakan.
Amiin. Good luck guys.” Tambahku
dengan wajah riang.
Setelah kami berlibur selama dua
minggu, seperti biasa di hari pertama sekolah kami selalu saja berbincang
bertiga. Hari itu, Riko tidak lagi bersikap dingin denganku, dia justru
membuatku tertawa berkali-kali sampai perutku terasa sakit. Kami tidak sengaja
bertemu di tempat parkir, akhirnya kami memutuskan untuk menuju kelas lama dan
bertemu dengan teman-teman. Teman-teman memberikan ucapan selamat meskipun Sasa
dengan berat hati mengucapkannya padaku. Sebenarnya, Sasa juga ikut bersama
kami. Tapi, karena dia menolak untuk masuk kelas SCI, akhirnya dia harus
merelakanku, teman sebangkunya. Tak lama kemudian, tiba-tiba seorang guru
memanggil kami bertiga, “Elsa, Riko, dan Nita. Silahkan bawa tas kalian lalu
meninggalkan kelas.” Kami bertiga terkejut, “Ha? Pindah kelas, Pak?” tanya
Nita. “Iyalah, ayo cepat!” jawab Pak guru. Kemudian, kami berpamitan kepada
teman-teman. Tak lupa kata maaf kami tuturkan. Berpelukan dan mencium kedua
pipi, itu yang aku lakukan bersama Sasa, teman sebangkuku selama ini. Ya, tak
apa. Inilah saatnya aku berjuang kembali bersama teman-teman baruku, bersama
suasana baru, dan berpisah dengan teman yang baru saja satu semester bersamaku.
Tapi, ada Riko dan Nita yang kuyakin bisa membuatku betah untuk tinggal di
kelas SCI tanpa ada Sasa disana.
Saat kami memasuki ruang kelas baru,
disana sudah terdapat banyak anak SCI lainnya. Lalu, kami segera duduk di
bangku masing-masing. Hari pertama sekolah, 4 Januari 2016 adalah hari santai bagi
kami karena tidak ada satupun pelajaran yang kami dapatkan hari itu. Aku
bertemu dengan teman baruku, Ega namanya. Dia sangat baik, ramah, dan
sepertinya bisa menjadi teman curhatku kelak.
Aku, Riko, dan Nita sudah jarang
berkumpul bertiga. Kami asyik dengan teman baru kami. Nita sesekali mengajakku
bicara hanya untuk meminjam sesuatu kepadaku dan Riko, aku dan Riko hanya
saling tatap satu sama lain. Bukan masalah untukku, itulah hal yang sering
dilakukan Riko denganku. Riko sudah putus hubungan dengan Dina. Sedangkan aku,
masih bersama kak Rendy yang akhir-akhir ini sikapnya berubah setalah tahu
bahwa aku menjadi bagian dari kelas SCI. Entah mengapa, aku pun tidak tahu apa
maksud kak Rendy. Sepulang sekolah, teman-teman organisator memberiku ucapan selamat
termasuk kak Ren. Walaupun sikap kak Ren berubah, bukan berarti aku dan kak Ren
tidak saling sapa lagi. Kita tetap saling sapa walaupun tidak saling berbicara.
“Selamat dek, semoga sukses.” Ucap kak Ren sore itu sewaktu di kantor OSIS.
Setelahnya, kak Ren mengajakku pulang, kita memutuskan untuk berjalan berdua
menuju tempat parkir. Setelah sampai di tempat parkir, kali ini ada yang
berbeda. Kak Ren tidak pulang terlebih dahulu tapi dia mengawasiku dari
belakang dengan sepeda motornya. Sungguh, hal yang sangat aneh.
Matahari mulai terbenam, senja
menyapaku dari sudut ruang tamu. Tiba-tiba, handphoneku
bergetar tanda ada pesan masuk. Ternyata, kak Ren berkirim pesan padaku berisi,
“Hai dek Elsa. Semangat belajarnya. Oh iya, belajar sendiri dulu ya, do the best for yourself! Jadilah yang
membanggakan dek! Kakak nggak mau ganggu kamu, kamu fokus aja sama SCI.
Semangat!” Aku terkejut membaca pesan dari kak Ren. Benar, aku memang harus
fokus dengan kelas SCIku, tapi bukan berarti hubunganku selesai sampai disini
dengan kak Ren. Susah sekali melupakan kak Ren yang selama ini memberiku banyak
semangat. Berbulan-bulan aku dekat dengan kak Ren dan inilah akhirnya. Aku
dilepaskan untuk fokus dengan cita-citaku. Baiklah, mungkin ini saatnya aku
memulai hari-hari tanpa kak Ren lagi. Aku teringat dengan Riko dan Nita. Ya,
aku masih punya mereka. Setidaknya, kegelisahanku ditinggal kak Ren segera
hilang dengan adanya mereka berdua. Esoknya, Aku memberitahu Riko soal kak Ren.
Riko hanya tersenyum mendengar curhatanku. Hari itu, hampir seharian ku
habiskan waktuku bersama Riko. Entah, seolah perasaan ini mucul lagi.
Comments
Post a Comment