Teman Sejati (Part 1)
Matahari
bersinar terang membuatku terbangun. Ku tengok jam dinding menunjukkan pukul
05.00. Pagi ini, aku bangun kesiangan karena semalam asyik bermain gadget baruku. Aku langsung menuju kamar
mandi untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat dua rakaat.
Setelahnya, aku mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah baruku. Menjadi siswa
baru di sekolah memang membutuhkan adaptasi, membiasakan diri dengan suasana
baru, teman baru, dan guru baru. Aku mencium tangan Mama kemudian berpamitan,
“Ma, Aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum..” Mama mencium kedua pipiku dan
berpesan, “Iya, hati-hati di jalan Nak. Belajar yang rajin, jangan nakal.”
Setelah sampai di sekolah, aku
berkenalan dengan teman-teman baruku di kelas. Kami saling sapa, bermain tukar
nama, dan menghafal nama teman sekelas. Hari itu adalah hari yang menyenangkan.
Bertemu dengan mereka yang sangat baik dan ramah padaku. Tiba-tiba ada teman
laki-laki yang memanggilku, “Hai, nama kamu siapa?” Aku terkejut dan dengan
ragu ku sebut namaku, “Eh iya, namaku Elsa.” Setelahnya, aku tersadar bahwa
seseorang yang menyapaku sejam yang lalu, ternyata ia duduk di belakangku. Aku
terdiam dan melamun. Tiba-tiba, “Hai El.
Salam kenal ya, namaku Sasa.” Sapa teman sebangkuku. Dia sangat ramah. Pukul
08.00, seorang Ibu guru memasuki kelas. “Assalamualaikum..” sapanya dengan
lembut. 30 menit kami mendengarkan cerita yang Ibu guru tuturkan, mendengarkan
dengan baik dan tiba-tiba ada yang menepuk punggungku, “Hai El. Apakah kamu
sudah mengenalku? Perkenalkan, namaku Riko.” Aku hanya nyengir dan
mengabaikannya. Sesaat setelah itu, Ibu guru meminta kepada kami semua untuk
melakukan pemilihan pengurus kelas, tiap anak menyebutkan satu nama untuk dijadikan
kandidat ketua kelas. Sewaktu giliranku, Aku menyebutkan salah satu nama yang
baru saja ku kenal. Ya, aku menyebut nama Riko. Aku percaya bahwa Riko adalah
sosok yang bisa menjadi ketua yang bertanggung jawab dan bisa melaksanakan
tugasnya dengan baik walalupun aku baru saja mengenalnya.
Ternyata, Riko menjadi sasaran teman
yang lain juga. Teman-teman juga menyebut nama Riko. Akhirnya, Riko terpilih
menjadi ketua kelas dengan suara terbanyak. “Sekarang, kamu berhak memilih siapa
yang akan kamu jadikan bendahara dan sekretaris. Silahkan.” Kata Ibu guru.
“Baik bu, saya pilih Elsa untuk menjadi bendahara dan Rita untuk menjadi
sekretaris.” Ucap Riko dengan tegas. Aku yang masih asyik bergurau dengan teman
sebangkuku langsung terkejut mendengar namaku disebut oleh Riko. Tiba-tiba,
Sasa teman sebangkuku meneriakiku dan berkata, “Ciyeeeee, jadi bendahara.
Selamat Elsa.” Aku tidak peduli dengan ucapan Sasa karena Aku masih tertegun
melihat Riko yang berdiri di depan kelas dan menyebut namaku. Kemudian, Riko
kembali menuju bangkunya dan mengejekku dengan sengaja, “Yeey, maafkan aku Bu
Bendahara. Pak Ketua telah menunjukmu sebagai bendahara kelas. Selamat bertugas.”
Aku hanya nyengir melihat wajahnya yang menyebalkan itu. Setelahnya, aku dipanggil
Ibu guru untuk maju ke depan. “Apakah kamu sudah mengerti tentang tugas
kebendaharaan? Jika sudah, segera laksanakan tugas dengan baik. Ibu dan
teman-teman telah mempercayaimu untuk menjadi bendahara kelas.” Kata Ibu guru
sambil memegang pundakku. Aku hanya tersenyum melihatnya, kemudian aku kembali
ke tempat dudukku.
Hari demi hari terlewati,
teman-teman setiap hari meneriakiku karena yang mereka tahu aku dengan Riko
sering bertengkar dan saling ejek. Ketika proses belajar mengajar berlangsung, tiba-tiba
Riko menendang kursiku dari belakang. Awalnya, aku hanya diam melihat tingkah
menyebalkannya itu kepadaku. Lama-lama, aku sebal. Kemudian aku memutuskan
untuk duduk di bangku depan yang kosong karena temanku tidak masuk sekolah.
“Kamu kenapa pindah?” Sasa bertanya heran. “Tak apa. Aku malas dengan Riko. Dia
membuatku tidak fokus belajar.” Jawabku dengan sebal. Kemudian, tanpa kusadari
ternyata Riko sudah berada di bangku belakangku duduk bersama Sasa. Aku menepuk
dahi dan berkata, “Oh my God, kok bisa disini lagi. Riko, kamu ngapain sih?
Jangan ganggu!” Riko hanya tertawa dan terus menendang kursiku hingga membuatku
ingin marah. Lagi-lagi, teman sebangku Riko juga Sasa meneriakiku dengan Riko
yang gaduh sendiri, “Ciyeeeeee..” Aku hanya diam melihat tingkah mereka
kemudian aku memutuskan untuk fokus belajar dan mengabaikan sikap Riko yang
menyebalkan.
Sebulan berlalu, tak terasa aku
sudah sebulan mengenal teman-teman baruku. Selain menjadi bendahara kelas, aku
juga menjadi bendahara di OSIS. Hal yang benar-benar menyenangkan. Sebulan
berkawan dengan Riko dan teman-teman konyolnya, membuatku tertawa setiap
harinya. Mereka mewarnai hari-hariku. Bahkan, aku lebih sering menghabiskan
waktuku bersama teman-teman laki-lakiku. Tapi, bukan berarti aku tidak suka
dengan teman sejenisku. Hanya saja, aku lebih nyaman ketika berada di antara
mereka yang bisa melindungiku, seperti Riko. Kami terlalu sering bergurau
bersama, terlalu bosan untuk diam dan tidak saling menyapa, dan bahkan ada hal
aneh yang entah mengapa bisa terjadi padaku. “Ciyeeeeee, Riko jadian sama Dina.”
Sorak teman sekelas. Aku terkejut mendengar mereka berkata seperti itu.
Kupikir, Riko adalah anak yang polos walaupun dia suka sekali mengejek
temannya. Saat itu, aku memutuskan untuk tidak lagi mengajaknya bicara karena aku
takut akan terjadi salah paham antara aku dan Dina. Dina adalah teman
sekelasku, dia duduk sebangku dengan Rika yang berjauhan dengan tempat duduk
Riko.
Setelah kejadian hari itu, Riko tak
lagi seasyik dulu. Dia diam dan jarang menyapaku. Sikapku juga biasa saja, tapi
hal yang dilakukan Riko memanglah aneh. “Saya bu.” Tiba-tiba Nita mengacungkan
tangannya dan memutuskan untuk segera maju ke depan menjawab soal yang telah
Ibu guru berikan. “Baiklah, silahkan maju Nita! Ada lagi yang mau maju menjawab
soal nomor 2 ?” Aku dan Riko mengacungkan tangan bersamaan. Saat itu, kita
tertawa bersama, berebut kesempatan, dan akhirnya Riko mengalah kemudian
memintaku untuk maju ke depan menjawab soal dari Ibu guru. Aku tersenyum
padanya sambil berkata, “Terima kasih ya.” Riko membalasku dengan tersenyum.
Aku, Riko, dan Nita adalah murid
yang aktif di kelas. Sering berebut kesempatan untuk menjawab soal dari Ibu dan
Bapak guru. Kami bertiga mempunyai cita-cita untuk menjadi bangian dari SCI (Siswa
Cerdas Istimewa). Setiap harinya, kami terus berlatih soal dan menghabiskan
waktu bersama saat jam pelajaran berlangsung. Riko yang dulunya asyik, ketika
sedang berkumpul bertiga dia bersikap biasa saja, kami hanya sering saling
pandang. Ketika aku teringat dengan Riko yang sudah jadian dengan Dina,
lagi-lagi aku sebal mengingat tentang hal itu. Dia mungkin memang tak pernah
menyukaiku, tapi dialah yang bisa membuatku bahagia setiap waktu sebelum kutahu
dia bersama Dina. Sejenak aku melamun memikirkan hal itu. Tapi, segera kuhapus
bayangan itu dari pikiranku. Aku teringat bahwa ada orang yang kuyakin bisa
lebih membuatku bahagia setiap harinya, kak Rendy. Kak Rendy membuatku bahagia
setelah Riko tak lagi mewarnai hariku. Sepulang sekolah, aku lebih sering
menghabiskan waktuku bersama teman-teman organisatorku. Di situlah aku juga
sering bertemu dengan kak Ren yang tiap harinya bergurau denganku. Kak Ren
adalah ketuaku, dia adalah ketua MPK. Saat itu, aku memutuskan untuk bersama
kak Ren setelah kutahu bahwa kak Ren menyukaiku sebelum aku menyukainya.
Di dalam kelas, aku tidak lagi
berpikir tentang Riko. Riko asyik bersama Dina setiap harinya. Bahkan, sudah
lama kami tidak berbincang bersama. Hanya berkumpul bertiga saja bersama Dina,
itupun jarang sekali. “Elsa, apakah kamu sudah mengerjakan soal ini?” Riko
bertanya padaku. “Sudah sebagian. Kamu?” tanyaku pada Riko. “Iya, sama. Ayo
mengerjakan bersama!” jawab Riko. Hari itu, untuk pertama kalinya setelah kami
saling berdiam diri, Riko mengajakku untuk mengerjakan soal bersama. Bukan
perkara yang mudah ketika Aku dan Riko duduk bersama menyelesaikan soal yang
cukup susah. Tiba-tiba, Nita duduk di sebelahku dan bertanya, “Hei, ngerjakan
soal nggak ajak-ajak. Jahat banget kalian.” Riko langsung menjawab, “Eh ya
biar, kamu tadi kan sibuk dengan teman sebangkumu.” Nita hanya nyengir dan
mengabaikan Riko. “Maaf Nit, Aku tadi diajak Riko.” Jawabku dengan pelan. “Oke,
tak apa. Lanjut yuk!” jawab Rina dengan wajah imutnya. Akhirnya, kami bertiga
berkumpul lagi setelah sekian lama tidak bersama.
Melihat kak Ren yang sangat baik
padaku, aku bisa melupakan Riko yang pernah membuatku bahagia walaupun sejenak.
Kak Ren memberi ucapan lewat pesan yang ia kirim pagi-pagi sekali. Selain itu,
tanpa pernah kuduga, kak Ren juga memberikan kejutan saat hari ulang tahunku,
ia bahkan mengantarku pulang sampai ke rumah. Hari itu, Aku sangat bahagia
perasaanku pada Riko sudah kupastikan tak lagi ada, dia hanya temanku, teman
sekelasku. Di sekolah, Riko hanya mengucapkan “selamat ulang tahun” bersama
teman sekelasku. Tidak ada yang spesial hari itu selain kak Ren yang
benar-benar membuat senyumku kembali.
Cahaya bulan purnama membuatku
tersenyum malam itu. Aku duduk di ruang tamu dan membuka kado dari Mama, Tante,
teman sekelas, dan Kak Ren. Malam itu, badanku pegal sekali setelah seharian
disiksa oleh teman-teman organisatorku termasuk kak Ren. Pukul 20.30, aku
memutuskan untuk segera tidur agar esok pagi saat bangun, badanku tidak pegal
lagi.
Mentari pagi tersenyum melihatku
terbangun pagi ini. Aku duduk di ruang makan untuk sarapan bersama Ayah dan
Mamaku. Setelahnya, aku memutuskan untuk pergi ke sekolah dan berpamitan dengan
kedua orangtuaku. Di sekolah, aku bertemu dengan Riko dan Dina yang tengah
asyik berdua di bangkuku. Aku hanya diam dan memutuskan untuk tidak mengganggu
mereka. Tiba-tiba, handphoneku
bergetar. Ada pesan masuk dari kak Ren, “Selamat pagi adek. Have a nice day.” Aku tersenyum setelah
membaca pesan dari kak Ren. Setidaknya, aku tidak iri dengan kebersamaan mereka,
aku pun juga bisa lebih bahagia bersama kak Ren. Karena yang kutahu, bersama
memang tak selalu berdua.
“Mohon maaf bagi bapak ibu guru
yang sedang mengajar di kelas. Diwajibkan kehadirannya ketua dan bendahara
kelas mulai dari kelas X sampai kelas XII berkumpul di Lab. Fisika sekarang
juga. Terima kasih.” Pengumuman itu kudengar lewat speaker. Kemudian, aku bergegas
memanggil Riko yang tengah asik berduaan bersama Dina lalu kuajak dia ke Lab.
Fisika. “Ayo buruan! Ntar telat loh.” Kemudian, Riko memutuskan untuk ikut
pergi bersamaku menuju lab. Fisika. Setelah kami sampai di Lab. Fisika, aku
duduk berdampingan dengan Riko. Sambil mendengarkan pesan yang disampaikan oleh
Pak guru, Aku dan Riko berbincang bersama. Entah hal apa yang membuat kami sedekat
ini kembali setelah lama tidak berbincang bersama. “Jujur-jujuran yok!” ucap
Riko. “Ha? Tentang?” jawabku dengan penuh tanya. “Ya tentang semua, tulis di
kertas ini. Nanti, gantian aku yang nulis deh.” Jawab Riko dengan yakin. “Oke,
ini jujur?” jawabku. “Iyalah, kan jujur-jujuran. Nggak boleh ada yang
dirahasiakan lagi.” Jawab Riko dengan yakin. “Oke. Aku nulis kamu dengarkan
baik-baik apa yang Bapak guru katakan.” Pintaku pada Riko. “Baiklah bu
bendahara, akan kulaksanakan dengan baik.” Jawab Riko.
Siang itu, aku menuliskan semua yang
pernah aku rasakan. Aku menulis penuh haru, tanpa kusadari aku menuliskan semua
yang tidak Riko tahu. Setelah kumpulan itu selesai, Aku dan Riko bergegas
menuju ke kelas. Setelah duduk di bangku masing-masing, kami saling bertukar
kertas yang sudah berisikan curahan hati kami masing-masing. Kemudian, aku
perlahan membuka kertas dengan pelan lalu membacanya. Aku terkejut melihat
tulisan Riko. Ternyata, dia juga pernah mengalami hal yang sama denganku
sebelum pada akhirnya dia memutuskan untuk bersama Dina. Riko, yang pernah
membuat hari-hariku jadi lebih berwarna sebelum aku bersama dengan kak Ren,
ternyata dia juga pernah menyukaiku. Di bagian bawah kertas milik Riko
bertuliskan, “Waktu selalu bergerak maju. Apa yang sudah terjadi tidak akan
pernah bisa kembali lagi. Jalani hidupmu dengan orang lain yang lebih bisa
membuatmu bahagia. Maafkan, karena aku telah memiliki rasa yang tidak
seharusnya. Berbahagialah, aku akan ikut bahagia jika kamu bahagia. Aku disini
dengan Dina. Kamu dengan kak Rendy.” Aku terharu membaca kalimat Riko. Pesan
yang ia sampaikan membuatku seolah kembali teringat akan hal yang sudah lalu.
Aku menyukainya entah karena apa dan mungkin aku menyayanginya lebih dari
sekedar teman.
“Kriiinggg...” Bel berbunyi. Aku
memutuskan untuk berpamitan pada Riko dan berpesan, “Simpan kertas itu
baik-baik ya. Aku pulang dulu, daaa..” Riko hanya tersenyum melihatku. Hari
itu, aku bahagia karena kutahu orang yang pernah aku sayangi ternyata juga
pernah merasakan hal yang sama denganku.
Sewaktu sekolah mengadakan kegiatan
aktualisasi kepramukaan, hari itu juga sepulang kegiatan namaku, Riko, dan Nita
terpanggil untuk mengikuti tes SCI minggu depan.
Comments
Post a Comment