Let Him Go (part 5)


Mama sangat bahagia tapi tidak dengan kak Ren. Kak Ren bersikap biasa saja bahkan dingin ketika kita chatting lewat messenger. Memang, kak Ren memberikan ucapan selamat padaku, memberikan semangat, dan menyuruhku untuk terus rajin belajar. Tapi, tidak untuk hari-hari selanjutnya. Kak Ren menghilang entah kemana. Sejak pengumuman SCI itu, sikap kak Ren berubah. Dia tidak lagi menghubungiku. Aku memutuskan untuk berkirim pesan kepada kak Ren namun tetap saja tidak ada balasan. Keesokan harinya, aku menghubungi kak Ren lagi untuk bertanya apakah kak Ren jadi ikut berlibur bersama para organisator atau tidak. Sebelum liburan, kak Ren berkata padaku bahwa ia akan mengajakku untuk berlibur bersama para organisator. Beberapa menit kemudian, kak Ren membalas pesanku dengan singkat, “Iya dek, jadi. Besok aku jemput ke rumahmu.” Aku tersenyum melihat pesan kak Ren. Hari itu, percakapanku dengan kak Ren biasa saja, biasanya aku yang selalu menjawab pertanyaan kak Ren. Tapi, kini aku yang melontarkan pertanyaan ke kak Ren. Baiklah, mungkin ini saatnya aku berganti peran menjadi pewawancara bukan narasumber.
            Pagi-pagi sekali, kak Ren mengirim pesan padaku berisi, “Aku berangkat dek.” Itu artinya, kak Ren menuju rumahku. Setelah kak Ren sampai di depan rumah, ia berpamitan dengan Mamaku meminta izin untuk mengajakku pergi berlibur bersama para organisator.” Kemudian, sepeda motor melaju dengan kencang menuju ke sekolah untuk berkumpul terlebih dahulu bersama organisator lain. Sesampainya disana, kakak-kakak berteriak mengejekku,”Ciyeeeee, Rendy sama Diva..” beberapa menit kemudian, kami semua berangkat untuk berlibur ke pantai. Disana, aku menghabiskan waktu sehariku bersama kak Ren. Kak Ren sangat menjagaku, memperhatikanku, dan membuatku bahagia. Pukul 16.30 kami bergegas pulang. Aku tetap bersama kak Ren sampai ia mengantarku pulang ke rumah.
            Libur kurang sehari. Hari libur terakhir, aku habiskan dengan membaca buku biologi. Karena sebentar lagi, aku akan berkumpul dengan teman baruku di kelas SCI. Aku rajin sekali mengerjakan soal. Tapi, hubunganku dengan kak Ren sangat tidak baik. Setelah berlibur bersama, kak Ren hilang lagi.
            Hari pertama sekolah di semester 2, aku sama sekali tidak bertemu dengan kak Ren, karena kelasnya jauh dari kelas baruku. Namun, bertemu dengan teman-teman baru di kelas SCI adalah kebanggaan tersendiri bagiku. Hari demi hari terlewati tanpa kabar kak Ren yang membuat semangatku perlahan hilang. Namun, aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku. Aku harus menjadi kebanggan mereka. Berhari-hari aku tidak bertemu kak Ren. Rindu, ingin sekali bertemu dan mengajak bicara lalu menanyakan ada apa dengan sikap kak Ren akhir-akhir ini. Sepulang sekolah, aku mendapat pesan singkat dari kak Ren yang berisikan, “Dek, belajar yang rajin ya. Belajar sendiri dulu aja. Do the best for your self. Maaf kalau kakak punya banyak salah. Semangat dek! Do the best!” Aku terdiam membaca pesan singkat itu, mataku berkaca-kaca. Ketika bertemu di sekolah, tanpa sepenggal kata apapun, kak Ren hanya menoleh padaku tanpa tersenyum. Aku pun hanya tersenyum pahit melihanya. Sejak hari itu, semua harus segera kuabaikan agar tidak mengganggu belajarku. Sejak hari itu pula, kak Ren tidak pernah lagi menghubungiku. Hanya saja kita bertemu saat rapat bersama para organisator. Tak bisa kubohongi, hatiku seolah rapuh. Secepat ini dan sesingkat ini. Detik demi detik, hari demi hari, dan berbulan-bulan aku dekat dengan kak Ren. Kak Ren memutuskan untuk membiarkanku fokus dengan SCIku, membiarkanku sendiri tanpa semangatnya lagi. Pada akhirnya, aku tahu dan mengerti bahwa tidak selamanya orang yang kita sayang bisa kita miliki. Semanis apapun kenangan itu, sebaik apapun seseorang itu, mereka hanyalah masalalu. Mereka adalah bagian dari cerita hidup. Memberikan banyak warna, hiasan, dan makna dalam kehidupan. Bertemu dengan kak Ren, dekat dengan kak Ren, berbagi kisah, dan menjalin hubungan yang bisa dikatakan hanyalah adik dan kakak, sangatlah indah dan membahagiakan. Sejak hari itu, aku memutuskan untuk tidak lagi memikirkan nasibku ditinggal kak Ren. Kenanganlah yang akan membuatku bangkit. Kalimat terakhir kak Ren lah yang membuatku tetap semangat, hingga hari ini aku masih bertahan di kelas kebanggaanku. I’ll do the best for my self, Kak Rendy.



                                                                                                            Created by : Mesh

Comments