Let Him Go (part 2)
Lagi-lagi,
kak Rendy menyapaku, “Hai dek, semoga berhasil.” Aku menjawabnya dengan wajah
agak cuek, “Makasih kak.” Entahlah. Percakapanku sejak 2 hari yang lalu
membuatku sedikit canggung saat bertemu dengan kak Rendy. Aku melamun saat
kakak-kakak mengumumkan nama-nama yang terpilih menjadi organisator. Tiba-tiba
Rina menepuk bahuku, “Heiiiiii! Selamat yaaa cantik. Kamu jadi bendahara MPK,
ciyee sebidang sama kak Rendy. Ehemmmm selamat!!!” Aku terkejut mendengar
perkataan Rina, ternyata aku sebidang dengan kak Rendy. Ah yasudah, ini saatnya
aku bersyukur karna keinginanku menjadi bendahara MPK terwujud. “Selamat dek, kamu
jadi bendahara MPK. Lanjutkan tugas kakak. Semangat!!!” Kak Risa, memberikan
semangat padaku. Ternyata, Rina juga terpilih menjadi organisator sekbid Budi
Pekerti. Kita bahagia sekali hari itu. Tiba-tiba ada yang mengejutkanku.
“Selamat dek. Selamat bekerja untuk satu tahun kedepan. Lakukan yang terbaik.”
Suara kak Rendy yang lantang menghentikan langkahku. “Eh iyaa, selamat juga kak
terpilih jadi ketua MPK.” Ucapku dengan senang hati. Hari itu, aku berjalan
berdua bersama kak Rendy menuju tempat parkir. Rani tampaknya masih ada
kumpulan bersama anggota sekbid budi pekerti lain. Jadi tak apa, bila aku
meninggalkannya. Sesampainya di parkiran, tiba-tiba satu persatu air turun dari
langit membahasi tanganku. “Ini dek, kamu pakai jas kakak.” Kak Rendy
memberikan jasnya padaku. “Eh buat apa kak? Nggak papa, kakak pakai saja, ini cuma
gerimis.” Jawabku. “Nggak dek, kamu pakai saja. Setelah ini akan hujan.
Hati-hati di jalan ya. Kakak pulang dulu, sampai besok.” Kak Rendy berpamitan
padaku. “Eh iya kak, hati-hati. Makasih kak.” Jawabku. Aku langsung memakai jas
kak Rendy yang ukurannya agak besar kemudian bergegas meninggalkan tempat
parkir.
Sesampainya
di rumah, seragamku basah karena hujan sore tadi. “Bagaimana kak Rendy? Apakah
dia juga kehujanan? Rumahnya sangat jauh bukan?” Gumamku dalam hati. Aku sangat
mengkhawatirkan keadaan kak Ren. Sambil mendengarkan lagu kesukaanku, aku
membuka facebook lewat laptopku.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari kak Rendy, “Sudah sampai rumah dek?” Aku
langsung menjawabnya, “Sudah kak. Kakak kehujanan nggak?” Beberapa menit
kemudian, kak Rendy menjawabnya, “Ooohh nggak dek, kakak nggak kehujanan.”
Percakapan itu berlangsung cukup lama sampai adzan maghrib, kemudian aku
memutuskan untuk sign out dari facebookku.
Entahlah,
semakin hari kita semakin dekat. Layaknya seorang kakak dengan adik. Kak Rendy
sangat perhatian, peduli, mengerti, dan bisa menjadi kakak yang baik. Setelah
LDK dilaksanakan dua hari yang lalu, besok adalah hari serah terima jabatan SEB
kepada OSIS. Aku mendapat pesan dari kak Rendy, ia memintaku untuk segera ke
lapangan, latihan sertijab. Karena aku terpilih menjadi inti dari MPK, jadi aku
masuk dalam barisan. Saat berlatih, kak Rendy menyapaku dengan tersenyum kemudian
aku membalas senyumnya. Aku langsung teringat dengan jasnya yang ia pinjamkan
padaku kemarin sore. Rina membuyarkan lamunanku, “Haaaiii!! Lama nggak ngobrol
bareng nih, mentang-mentang sekarang sebidang sama kak Rendy jadi lupa aku.”
Aku tertawa kemudian menjawab, “Eihhh, nggak lupa kok. Apaan sih, kak Rendy
Cuma ketuaku. Kamu tuh yang lupa aku, asyik banget sama teman-temanmu.” Rani
melotot, “Ha? Iya deh maaf. Maaf ya Diva.” Kemudian aku hanya menjawabnya
dengan satu kata, “Ya.” Setelahnya tertawa terbahak-bahak. Peluit berbunyi,
tanda latihan akan dimulai. Aku dan Rina segera memasuki barisan. Keesokan
harinya, tepatnya tanggal 12 September 2015 aku beserta organisator baru
lainnya resmi menjadi anggota OSIS masa jabatan 2015-2016.
Hari
demi hari berlalu, sekolahku baik-baik saja. Bahkan aku suka sekali dengan guru
baruku. Disaat aku asyik mengerjakan soal matematika di depan kelas, kak Rendy
mengetuk pintu kelasku. “Tok tok tok... permisi pak, bolehkah saya memanggil
Diva? Ada perlu sebentar.” Setelah Pak guru mengangguk, aku bergegas
menghampiri kak Rendy, “Iya kak, ada apa?” kak Rendy tiba-tiba tersenyum
padaku. Aku pun juga ikut tersenyum melihat kak Rendy. “Eh iya dek, nanti
istirahat pertama kumpul di kantor OSIS yaa, kita adakan rapat pertama MPK.”
Aku hanya mengangguk. Kemudian kak Rendy mengucapkan terima kasih kepada Pak
guru lalu pergi meninggalkan kelasku. Saat bel istirahat berbunyi, aku segera
menuju ke kantor OSIS, ternyata disana sudah ada anggota MPK lainnya. “Silahkan
masuk dek.” Kak Rendy menyuruhku memasuki kantor OSIS. Kemudian aku masuk lalu
duduk di dekat almari. Rapat berlangsung sampai bel masuk berbunyi. Setelahnya
aku kembali ke kelas mengikuti pelajaran bahasa Inggris.
Keesokan
harinya, aku datang pagi-pagi sekali karena ada jadwal pagi dengan guru
matematikaku. Saat aku lewat di depan ruang kelas anak SCI, aku bergumam dalam
hati, “Jadikan ruang kelas ini sebagai kelasku Ya Allah. Jadikan aku anak SCI.”
Kelas SCI (Siswa Cerdas Istimewa) adalah kelas untuk siswa yang akan diluluskan
dua tahun. Menjadi salah satu anggota SCI adalah kebanggan untuk diri sendiri
dan orang tua maupun teman-teman. Harapan terbesarku, aku bisa menjadi anggota
SCI. Sekolahku berjalan dengan sangat baik, ulangan harianku selalu mendapatkan
nilai tinggi terutama matematika. Aku bersyukur bisa mendapatkan nilai baik dan
semoga harapanku tercapai.
Sebulan
lebih aku dan kak Rendy dekat. Kak Rendy yang membuat percakapan semakin asyik
dan membuatku semangat setiap harinya. Aku tersadar bahwa seminggu lagi adalah
hari ulang tahunnya. “Dek?” Kak Rendy menyapaku saat aku sedang memikiran kado
apa yang akan aku berikan di hari ulang tahunnya yang ke-17 tahun. “Eh iya
kak?” Jawabku dengan nada agak kaget. “Mikirin apa dek? Nggak pulang? Yuk
pulang!” Jawab kak Rendy. “Ha? Nggak mikir apa-apa kok kak. Iya pulang, ayok!”
Jawabku dengan sedikit tertawa. Untuk kedua kalinya aku berjalan berdua dengan
kak Rendy menuju tempat parkir. Sesampainya disana, seperti biasa kak Rendy
berpamitan pulang terlebih dahulu meninggalkan tempat parkir.
Comments
Post a Comment