Let Him Go (part 4)
Kulihat ada
pesan masuk dari Kak Ren yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku,
“Selamat ulang tahun dek, aku tunggu di depan kantor OSIS sepulang sekolah.” Sehabis
mandi dan sarapan pagi, aku pergi ke sekolah dengan sepeda motor. Sesampainya
di sekolah, aku kembali menjadi seseorang yang tidak dikenal dengan teman sekelasku.
Mereka mengabaikanku, tidak peduli padaku, dan tidak mengajakku berbicara
sampai bel pulang sekolah berbunyi. Tika mengajakku pergi ke kamar mandi dan
tiba-tiba sebotol air membasahi punggungku dilanjut dengan tepung yang sangat
lengket terkena air. Hari itu, aku mirip dengan adonan kue yang siap untuk
dipanggang. Ternyata, teman sekelasku merayakan hari ulang tahunku yang ke-15.
Aku diberi kue ulang tahun dan kado kecil oleh mereka. Hari itu, aku sangat
bahagia. Rina juga memberikan sebungkus kado untukku. Setelah merayakan ulang
tahun bersama teman sekelasku, aku bergegas menuju ke depan kantor osis.
Ternyata, kak Ren sudah duduk manis di kursi taman. “Hai dek, selamat ulang
tahun.” Kak Ren menyapaku dengan senyum manisnya. “Eh iya kak, terima kasih.”
Jawabku tersipu malu karena tubuhku penuh dengan tepung kanji yang super
lengket. “Ini dek, buat kamu. Semoga bermanfaat. Disimpan baik-baik ya.” Kak
Ren memberikan sebuah tas kado merah kepadaku. Aku menerimanya lalu tersenyum
dan berkata, “Terima kasih banyak kak.” Di depan kantor osis, aku
berbincang-bincang dengan kak Ren dan kakak partnerku
bernama kak Dina sampai pukul 16.00. Sesudahnya, aku memutuskan untuk pulang
karena hari sudah sore dan tubuhku masih dengan tepung kanji yang lengket. Kak
Ren mengantarku ke tempat parkir dan kali ini, kak Ren tidak berpamitan pulang
terlebih dahulu. Dia memintaku untuk pulang terlebih dahulu dan kak Ren
mengawasiku dari belakang dengan sepeda motornya.
Aku pulang dengan wajah bahagia.
Mama menghampiriku dan berkata, “Hei, dapat hadiah dari siapa saja?” Tanpa
basa-basi, aku menceritakan semuanya kepada Mama, termasuk tentang kak Ren yang
beberapa bulan terakhir ini dekat denganku. Mama hanya berkomentar, “Waaah, jangan
berlebihan ya. Hati-hati. Karena tidak semua yang kamu sayangi selalu bersikap
baik padamu. Suatu saat yang pernah menjadi milikmu, dia juga akan pergi dengan
alasan tertentu.” Mama menasehatiku dan aku hanya mendengarkannya sambil
membuka kado dari kak Ren. Kado yang diberikan kak Ren adalah sebuah mukena dan
kerudung berwarna merah bata. Mama terkejut melihatnya dan berkata, “Ciyeeee,
kak Ren baik ya.” Aku tertawa melihat tingkah Mama.
Liburan telah tiba. Rapot sisipan
sudah dibagi dan nilaiku cukup memuaskan. Harapanku terwujud karena aku
terpilih menjadi anggota SCI. Mama sangat bahagia tapi tidak dengan kak Ren.
Comments
Post a Comment