Let Him Go (part 1)


            Mentari tersenyum melihatku bersemangat untuk berangkat sekolah pagi ini. Hari ini adalah hari pertamaku bersekolah di sekolah baru, beradaptasi dengan suasana baru, dan bertemu dengan mereka yang akan mewarnai hari-hariku. MOPDB telah usai, serasa terbebas dari jeratan kakak-kakak waba yang agak menakutkan. MOPDB memang bukan hal yang menyenangkan, banyak peraturan yang tidak kutemukan di SMP dulu. “Kriiingggg...” bel sekolah berbunyi. Semua murid memasuki kelasnya masing-masing. Aku duduk di bangku paling depan bersama teman baruku. Saat sedang asyik bercerita, seseorang memanggil namaku dari depan pintu kelas. ”Divaaa...” Aku terkejut, ternyata ia adalah teman SMPku dulu. Aku bergegas menghampirinya di depan pintu, “Eh iya, ada apa Rin?” Aku bertanya pada Rina dengan wajah penasaran. “Eh, nanti ada pendaftaran sekalian tes tulis bagi calon anggota OSIS baru lho, kamu ikut nggak?” jawab Rina dengan hebohnya. “Waaah iya jelas ikut laah, kamu kamu?” Tanyaku pada Rina. “Iya ikut lah, sepulang sekolah aku tunggu di depan kelasku. Aku kembali ke kelas dulu, sampai nanti Div.” Rina meninggalkan kelasku sambil melambaikan tangannya.
            Sepulang sekolah, Aku menghampiri kelas Rina. Sesampainya disana, aku duduk menunggu Rina keluar dari kelas sambil bermain handphone. “Haaaiiii Divaaa.” Rina menyapaku sambil memegang handphone miliknya. “Eh iyaaaa, yuk cepet kumpul di depan kantor OSIS !” Aku langsung berdiri sambil menarik tangan Rina yang masih asyik bermain game. “Eeeeh iya iya, aku out dulu gamenya. Tunggu sebentar!” jawab Rina dengan muka sebal. Kemudian, kita menuju ke tempat berkumpulnya calon organisator. Di sekolah baruku, organisator adalah sebutan bagi anak yang mengikuti OSIS. OSIS terbagi menjadi beberapa sekbid dan hal baru yang aku temukan adalah MPK (Majelis Perwakilan Kelas) yang  juga termasuk bagian dari OSIS. Aku dan Rina mempunyai pilihan masing-masing. Aku memilih untuk menjadi bendahara MPK. Saat berkumpul bersama calon organisator lainnya, kakak-kakak kelas meminta kami memasuki salah satu kelas di dekat kantor OSIS untuk melaksanakan tes tulis. Setelah tes tulis dilaksanakan, kami diberitahu oleh salah satu kakak kelas bahwa  besok akan diadakan tes lisan sepulang sekolah. Aku berpamitan kepada Rina yang masih asyik mengobrol dengan teman barunya. “Aku pulang duluan Rin, sampai besok.” Rina menjawab dengan nada terkejut, “Loh kamu pulang duluan? Iyadeh, hati-hati di jalan Div. Daaaa...” Aku pergi meninggalkan kelas menuju tempat parkir.
            Sesampainya di rumah, handphone ku bergetar. Ada pesan masuk dari nomor asing berisi, “Hai dek. Besok bisa kumpulan calon MPK?” Tanpa berpikir panjang, aku membalas pesan itu, “Iya kak, bisa. Ini siapa ya?” Beberapa menit kemudian, handphoneku bergetar lagi, “Kak Rendy dek.” balasan singkat yang membuatku terdiam sejenak. “Kak Rendy? Bukankah itu calon ketua MPK? Kakak yang dulunya jadi tatib waktu MOPDB, sukanya marah-marah?” Gumamku dalam hati. Setelahnya, aku memutuskan untuk tidak membalas pesan itu.
            Esok harinya, sepulang sekolah aku berkumpul di depan kantor OSIS untuk melaksanakan tes lisan. Aku bertemu dengan kak Rendy. “Haii dek.” Sapa kak Rendy dengan ramah. Aku hanya tersenyum melihatnya. Lalu aku memasuki ruang kelas bersama calon anggota MPK lainnya, termasuk kak Rendy yang mencalonkan diri sebagai ketua MPK. Setelah tes lisan dilaksanakan, kak Ana memberitahukan bahwa besok akan diadakan kumpulan kembali untuk mengumumkan siapa yang terpilih menjadi organisator baru. “Divaaaaaaa” Rina memanggil namaku dari kejauhan. Dia tampaknya bahagia sekali. Aku menghampirinya dan berkata, “Iya Rin, ada apa? Kok kelihatannya seneng gitu?” Rina menjawab dengan singkat, “Tak apa, yuk pulang!” Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi, karna Rina adalah orang yang penuh rahasia.
            Saat aku duduk santai di depan rumah sambil mengerjakan tugas, handphone di sampingku bergetar, ada pesan masuk dari kak Rendy. “Dek, maaf tadi nggak jadi kumpulan. Soalnya aku masih ada urusan.” Aku bahkan tidak ingat jika hari ini ada kumpulan calon MPK. “Iya kak, tidak apa-apa. Saya juga lupa kalau ada kumpulan.” Balasku. “Iya dek. Gimana tadi tesnya? Ditanyain apa aja?” Aku nyengir melihat balasan kak Rendy, banyak sekali pertanyaannya. “Alhamdulillah kak, ya begitulah ditanya tentang tugas bendahara.” Balasku dengan wajah nyengir. “Siplah dek, saya yakin kamu terpilih jadi bendahara MPK.” Jawab kak Rendy meyakinkanku. “Iya kak, amiin terima kasih.” Balasku dengan singkat.
Mulai hari itu, percakapanku dengan kak Rendy semakin lama semakin asyik. Entah mengapa bisa begini, aku pun tak pernah menyangka. “Kriiingggg...” bel pulang sekolah sudah berbunyi, aku segera berlari menghampiri Rina yang tengah melamun di depan kelasnya. “Hei!” Aku menepuk bahunya dengan keras hingga membuat Rina kaget. “Eeeehh, duuh bikin kaget aja kamu.” Jawab Rina dengan muka masam.”Hihihi, maaf. Kamu sih ngelamun terus, yuuuk kumpulan! Keburu telat nih, sekarang kan pengumuman.” Lagi-lagi, kak Rendy menyapaku, “Hai dek, semoga berhasil."


Comments