Teman Sejati (Part 3)
Sebulan
lebih aku berada di kelas baru bersama teman baruku lainnya. Kami sudah
mengenal satu sama lain, kompak, danmenyenangkan. Ega, teman baruku juga berteman
baik dengan Nita. Kami bertiga menjadi teman baik, kemana-mana selalu bersama.
Oh ya, Lolita juga menjadi teman baikku setelah Ega. Aku sering menghabiskan
waktuku bersama mereka tanpa Riko. Temanku yang satu itu seolah lupa denganku.
Ah biarlah, aku juga punya banyak teman selain Riko. Lolita adalah teman
curhatku, aku bercerita banyak hal tentang diriku dan kak Ren. Ternyata, dia
baru tahu setelah mendengar ceritaku. “Bagaimana hubunganmu dengan kak Ren
sekarang?” tanya Lolita. “Ha? Ya sudah selesai. Mau diapakan lagi kalau kak Ren
sudah melepaskanku?” Lolita hanya terdiam mendengar kalimat terakhirku.
Setelahnya, kami memutuskan untuk pulang karena bel sekolah telah berbunyi.
Soal Riko dan aku hanya kita yang
tahu. Tapi kali ini, aku tidak bisa lagi menutupinya dari Ega yang terus
bertanya-tanya tentang Riko. Akhirnya, dengan terpaksa aku ceritakan semua
tentang hubunganku dengan Riko yang hanya sekedar teman biasa tapi pernah ada
rasa. Sepulang sekolah, Riko berkirim pesan padaku, “Hai Elsa.” Aku membalasnya
dengan cepat, “Hai juga Riko.”Malam itu sangatlah menyenangkan. Ada yang
menghibur hatiku lagi setelah kak Ren pergi. Riko membuatku bahagia kembali,
aku merasa nyaman, dan seolah perasaanku kembali seperti dulu. Entah, apa yang
harus aku lakukan saat ini. Tiba-tiba, handphoneku
bergetar. Ternyata, Lolita berkirim pesan padaku berisi, “Hai Elsa. Aku baru
saja chatting dengan Riko. Aku baru
tau, jika kamu dan Riko dekat dan ada rasa. Ciyeeeee..” Aku terkejut kemudian
tanpa ragu aku balas pesan Lolita, “Ha? Hehe iya. Riko cerita apa aja ke kamu?”
Beberapa menit kemudian, Lolita menjawab pesanku, “Ciyeeee, dia bilang dia sayang
banget sama kamu. Tapi, dia nggak mau jadian karena dia takut sewaktu-waktu
kalian putus itu akan membuat pertemanan kalian hancur.” Aku terharu membaca
pesan Lolita. Belum sempat aku membalasnya, tiba-tiba ada pesan dari Riko,
“Hai, apa kabar? Lama nggak ngobrol.” Aku langsung membalasnya, “Emm, baik.
Kamu apa kabar? Baik juga kan?” Kemudian, aku menjawab pesan Lolita dengan
cepat, “Iyakah? Aku sayang Riko. Baiklah, terima kasih Lolita. Kamu memang
teman yang baik. Sampaikan salamku pada Riko.” 15 menit berlalu, tetap tidak
ada balasan dari Riko ataupun Lolita. “Kehabisan pulsa mungkin.” Gumamku dalam
hati. Baiklah, aku memutuskan untuk segera tidur karena besok harus berangkat
pagi-pagi sekali.
Setelah Lolita berkirim pesan
berisikan tentang Riko, aku hanya diam dan tersenyum ketika mengingat hal itu.
“Elsa.” Riko menyapaku dari belakang. Aku langsung menengok ke arahnya dan
berkata, “Riko.” Hal yang sangat menyenangkan, walaupun hanya saling sebut
nama. Riko sudah tahu jika aku telah diberitahu oleh Lolita soal semalam. Riko hanya tersenyum
setiap kali kita saling pandang. Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika
hari-hariku penuh dengan tawa Riko dan teman-temanku yang lain. Hati yang
sakit, jiwa yang selalu saja gelisah memikirkan kak Ren yang tidak pernah lagi
menghubungiku, dan raga yang selalu saja rindu dengan tawa bahagia, kini tak
lagi. Hatiku bahagia, jiwaku tak lagi gelisah, dan ragaku baik-baik saja. Sejak
hari itu, aku semakin dekat dengan Riko dan kita memutuskan untuk tetap berteman sampai
kapan pun. Bahkan, berteman lebih baik daripada berkomitmen yang pada akhirnya
akan memutus hubungan pertemanan. Lebih baik saling membahagiakan sampai kapan
pun daripada saling menyakiti pada akhirnya. Hari itu, aku tahu. Rasa ini tak
pernah salah. Karena semua berawal dari ketidaksengajaan, berawal dari
kebiasaan, dan berakhir dengan kebahagiaan. Dia memilikiku dalam diam, aku pun
sebaliknya. Tak ada kata pacar, yang ada hanyalah teman. Teman sejati.
Created by: Mesh
Comments
Post a Comment