Let Him Go (part 3)
Sehari
sebelum kak Rendy ulang tahun, aku pergi ke tempat buku untuk membeli al-qur’an
kecil, gantungan dadu, dan tas kado berwarna merah. Sesampainya di rumah, aku
menulis ucapan selamat ulang tahun untuk kak Rendy. Lalu ucapan itu aku masukkan
ke dalam tas kado merah yang kubeli. Pukul 00.00, aku mengirim pesan kepada kak
Rendy untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Paginya, aku berangkat sekolah dan
tidak bertemu dengan kak Rendy sama sekali. Aku sangat kebingungan, “Bagaimana
jika aku tidak bertemu kak Rendy? Kadonya gimana?” Gumamku dalam hati. Sepulang
sekolah, aku melihat kak Rendy sedang duduk di taman dekat kantor OSIS, tanpa
ragu aku menghampirinya dan berkata, “Selamat ulang tahun kak.” Sambil
menyerahkan tas kado berwarna merah berisi al-qur’an itu. Kak Rendy terdiam
sejenak, ternganga melihatku, “Eh buat aku dek?” Aku tersenyum melihat tingkah
kak Rendy. “Iya, buat kakak.” Tiba-tiba ada yang memanggil kak Rendy, kemudian
kak Rendy langsung meninggalkanku sendiri. Setelahnya, aku memutuskan untuk
pulang ke rumah, bad mood sekali
melihat kak Rendy cuek, acuh tak acuh terhadapku, malah memperhatikan temannya.
Padahal, hari itu aku berencana merayakan ulang tahunnya dengan anggota MPK
lainnya, tapi gagal. Ternyata kak Rendy mendapatkan hadiah dan kejutan dari
teman-temannya setelah aku memberikan kado itu.
Sesampainya
di rumah, aku meletakkan tasku dan membiarkan handphoneku bergetar berkali-kali. Aku memutuskan untuk tidur
siang. Pukul 16.30 aku terbangun dari tidurku dan mengambil handphone di dalam tas. Aku terkejut
melihat 4 pesan dari kak Rendy. “Dek, kenapa pulang tadi? Padahal aku mau
ngobrol sama kamu.” “Dek?” “Dek, marah?” Aku hanya membalas pesannya dengan
singkat, “Nggak.” Hari itu, aku memang bad
mood melihat kak Ren bahagia bersama teman-temannya dan melupakanku. Tapi,
bagaimana bisa aku begini? Apa hakku melarang kak Ren bahagia bersama
teman-temannya? Aku siapanya? Aku hanya adik kelasnya, dia hanya ketuaku.
Cukup. Handphone ku berbunyi,
ternyata Rina menelponku kemudian ku angkat telponnya, “Iya Rin, ada apa?” Rina
menjawab, “Ciyeee ngasih kado kak Ren, hemmmmm.” Aku hanya diam dan mengganti
topik lain, “Kamu tadi kemana? Aku cari kemana-mana nggak ada.” Rina menjawab
dengan santai, “Aku? Sudah pulang sejak kamu belum keluar kelas, hari ini
kelasku pulang lebih cepat, jadi aku pulang duluan.” Aku nyengir mendengarnya,
“Emmm, gitu ya? Hmm” kemudian Rina buru-buru mematikan telponnya karna dia
dipanggil ibunya, “Nanti lagi ya, aku dipanggil ibuku. Daaaa...”
Selama menjadi organisator, banyak
hal baru yang aku temukan. Kebersamaan menjadi hobiku, bergurau bersama sambil
berdiskusi mengenai OSIS, menjadi sie dari setiap acara, dan melakukan banyak
hal bersama teman-temanku di organisator. Ketika aku membuka tas untuk mengambil
buku OSIS, aku menemukan selembar kertas bertuliskan, “Diva, kapan kamu
kesini?” saat itu aku teringat kak Rendy, karena ia telah memberikan kertas itu
padaku. Sebuah tantangan untuk mendaki Gunung Ijen dan melihat keindahan alam
yang sangat menakjubkan. Beberapa hari setelah ulang tahunnya, kak Rendy sama
sekali tidak menghubungiku, aku juga diam tidak bertanya apa kabar padanya.
Karena menghabiskan waktu bersama teman-teman lebih baik daripada terus
berfikir kak Ren yang entah kenapa dan kemana.
Pagi-pagi sekali, seperti biasa ada
jadwal pagi matematika. Aku memasuki kelas sambil membawa buku matematika.
Sikap teman sekalasku berubah drastis. Mereka cuek, membiarkanku berbicara
sendiri, dan aku tidak mengerti apa salahku. Mereka hanya melirikku, tidak
mengajakku berbicara sampai bel pulang sekolah berbunyi. Aku memutuskan untuk
tidak berkumpul bersama teman-teman organisatorku, karena tugas telah menantiku
di rumah. Sesampainya di rumah, aku mengerjakan tugas sampai selesai. Aku
berusaha melupakan sejenak tentang kak Rendy dan perubahan sikap temanku. Aku
membuka buku kimia untuk belajar karena besok Senin adalah hari pertama ujian
tengah semester. Saat aku sedang asyik mengerjakan soal, tiba-tiba handphone ku berbunyi, ada pesan masuk
entah dari siapa. Dengan senang hati, aku membuka pesan itu. Pesan itu berisi,
“Hai dek. Semangat ujiannya, semoga mendapatkan nilai yang memuaskan. Selamat
belajar. Ini kak Rendy.” Aku terkejut, aku pikir itu bukan kak Ren. Kemudian
aku membalas pesan itu, “Iya kak. Terima kasih. Semangat juga ya kak.”
Setelahnya tidak ada balasan dari kak Ren. Aku pun memutuskan untuk mematikan handphoneku dan melanjutkan belajarku.
Hari pertama ujian, seperti biasa
aku memasuki kelas dan duduk menempati bangku di depan guru. Tika menghampiriku
dan berkata, “Hai Div, apa kabar hari ini?” Aku tersenyum dan menjawab, “Baik
Tik, kamu apa kabar?” Tika menjawab dengan senang hati, “Baik juga. Oh iya,
maaf ya soal kemarin Sabtu. Aku sebenarnya tidak ada maksud untuk membiarkanmu
sendiri, mengabaikanmu bicara, dan tidak mempedulikanmu. Teman-teman bilang,
kamu sekarang sibuk dengan kegiatanmu di OSIS. Sehingga mereka tidak terlalu
suka dengan kesibukanmu.” Tika menjelaskan dengan penuh hati-hati. Aku terkejut
mendengar ungkapan Tika. Ternyata, sikap teman-teman membuatku tersadar, bahwa
aku terlalu asyik dengan teman baruku di OSIS. “Eh iya, maaf juga ya aku
terlalu sibuk. Maaf terkadang aku tidak bisa berkumpul bersama kalian.” Jawabku
dengan penuh hati-hati. “Iya Div, nggak papa. Aku hanya ingin memberitahumu
soal itu. Tapi tenang, teman-teman sudah memaafkanmu. Mereka sudah mengerti
mengapa kamu selalu tidak bisa berkumpul bersama lagi.” Tika memegang tanganku
dan meyakinkan bahwa teman-teman sudah memafkanku.
Seminggu berlalu, ujian tengah
semester berakhir, tinggal menunggu hasil ujian. Ketika aku berdiam diri di
depan kelas ujianku, tiba-tiba teman-teman mengajakku pergi ke kantin.
Sesampainya dikantin, aku bertemu dengan kak Ren. Namun, kubiarkan diriku asyik
bersama teman-teman. Setelah kita duduk bersama, hanya aku yang belum
mendapatkan tempat duduk. Tiba-tiba kak Ren memberikan kursinya padaku lalu
menyuruhku untuk duduk. Aku hanya tersenyum dan teman-teman langsung berteriak,
“Ciyeeeeee..” Aku tersipu malu melihat teman-temanku meneriaki tingkah kak Ren
padaku. Teriakan mereka terabaikan olehku. Kak Ren menatapku dengan senyumnya
yang manis. Setelahnya, kak Ren berpamitan padaku lalu pergi meninggalkan
kantin. Beberapa menit kemudian, aku memesan makanan dan minuman bersama
teman-teman.
Sore hari, saat aku sedang menonton
televisi, tiba-tiba handphoneku
bergetar. Ada pesan masuk dari kak Ren. “Hai dek.” Sayang, hari itu aku tidak
bisa membalas pesannya karena aku tidak punya pulsa. Beberapa hari lagi, adalah
hari ulang tahunku. Entah aku mendapatkan kejutan apa, aku hanya ingin bahagia
di hari ulang tahunku yang ke-15 nanti. Mamaku bertanya, “Mau hadiah apa dari
mama?” Aku hanya tersenyum mendengar tawaran mama. Lalu, mama melanjutkan
pekerjaannya.
Hari Kamis, 12 November 2015 adalah
hari ulang tahunku yang ke-15. Disaat aku terbangun dari tidurku, mama
menghampiriku lalu memeluk dan menciumku sambil berkata, “Selamat ulang tahun
Nak, jadilah yang membanggakan.” Aku tersenyum bahagia pagi itu. Kulihat ada
pesan masuk dari Kak Ren yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku,
“Selamat ulang tahun dek, aku tunggu di depan kantor OSIS sepulang sekolah.”
Comments
Post a Comment